Perseteruan Musk dan OpenAI: Kesaksian Shivon Zilis Ungkap Jaringan Kompleks Hubungan dan Kepentingan

Rayyan Alfarizqi

Di tengah gejolak hukum yang melibatkan miliarder teknologi Elon Musk dan raksasa kecerdasan buatan (AI) OpenAI, sosok Shivon Zilis muncul sebagai saksi kunci yang mengungkap benang kusut hubungan pribadi dan profesional yang kompleks. Perannya sebagai eksekutif di perusahaan Musk sekaligus mantan anggota dewan OpenAI menempatkannya di persimpangan krusial, menjadikannya pusat perhatian dalam perselisihan yang berpotensi mengubah lanskap pengembangan AI global.

Zilis, yang pada tahun 2022 menjabat di kedua entitas tersebut, ternyata menyimpan sebuah rahasia signifikan: Elon Musk adalah ayah dari anak kembar yang lahir darinya setahun sebelumnya. Rahasia ini, yang kemudian diikuti dengan kelahiran dua anak lagi, kini menjadi sorotan dalam gugatan Musk terhadap OpenAI. Zilis, yang awalnya turut menggugat namun kemudian menarik diri, menjadi saksi yang membeberkan perannya sebagai perantara arus informasi antara Musk dan para petinggi OpenAI. Peran ini berlanjut bahkan setelah Musk mendirikan perusahaan AI pesaingnya sendiri pada tahun 2023.

Gugatan Musk terhadap OpenAI, perusahaan yang ia bantu dirikan dan danai, berakar pada tuduhan bahwa OpenAI telah mengkhianati misi nirlabanya dengan beralih menjadi entitas berorientasi laba. Musk menuding para pemimpin OpenAI telah menipunya, melanggar kepercayaan amal, dan memperkaya diri sendiri. Namun, OpenAI dengan tegas membantah klaim tersebut. Mereka berargumen bahwa justru Musk lah yang mendorong pembentukan anak perusahaan yang mencari keuntungan, dan bahwa gugatan ini didasari oleh ketidakpuasannya karena tidak berhasil mendapatkan kendali penuh atas perusahaan. Perlu dicatat, Musk telah meninggalkan OpenAI pada tahun 2018.

Keterlibatan Zilis dalam dinamika ini semakin mendalam. OpenAI menuduh Zilis mengetahui rencana Musk untuk meluncurkan perusahaan AI pesaing bahkan sebelum informasi tersebut dipublikasikan secara luas, saat ia masih menjabat di dewan direksi OpenAI. Bukti berupa pesan teks yang diajukan dalam persidangan memperkuat tuduhan ini. Zilis dilaporkan menulis kepada seorang teman bahwa ia terpaksa mengundurkan diri dari dewan karena upaya Musk telah menjadi rahasia umum. Ia mengungkapkan kekhawatiran, "Ketika ayah dari bayi-bayimu memulai upaya yang kompetitif dan akan merekrut dari OpenAI, tidak ada yang bisa dilakukan."

Sejak awal berdirinya OpenAI, Zilis memainkan peran integral dalam diskusi terkait urusan Musk dengan perusahaan tersebut. Salah satunya adalah perdebatan pada tahun 2017 mengenai kemungkinan pembentukan struktur pencari laba untuk membiayai pengembangan AI yang semakin mahal. Berbagai opsi dibahas, termasuk pembentukan korporasi yang berorientasi pada keuntungan atau akuisisi OpenAI oleh Tesla, perusahaan otomotif yang dipimpin Musk.

Dalam proses persidangan, pengacara OpenAI berupaya membuktikan bahwa Zilis dan Musk telah berdiskusi secara mendalam mengenai pembentukan entitas pencari laba untuk perusahaan AI tersebut. Di sisi lain, tim hukum Musk berusaha meyakinkan pengadilan bahwa Zilis memiliki keyakinan kuat bahwa OpenAI telah menyimpang dari misi nirlabanya.

Bahkan setelah Musk hengkang dari dewan direksi OpenAI dan menghentikan pendanaan, Zilis tetap berperan sebagai penghubung. Musk dilaporkan ingin Zilis tetap dekat dan menjaga hubungan baik, serta berencana untuk merekrut beberapa staf OpenAI untuk bergabung dengan Tesla.

Presiden OpenAI, Greg Brockman, memberikan kesaksian yang menarik mengenai persepsi dewan direksi terhadap hubungan Zilis dan Musk. Brockman menyatakan bahwa Zilis pernah meyakinkan dewan bahwa hubungannya dengan Musk bersifat platonis, sehingga memungkinkannya untuk tetap menjabat. Brockman menambahkan bahwa ia tidak menyadari adanya hubungan romantis antara Zilis dan Musk pada saat itu.

Konsekuensi dari kasus ini bisa sangat signifikan bagi masa depan perlombaan AI. Jika Musk memenangkan gugatannya, OpenAI berpotensi dipaksa untuk kembali ke struktur nirlaba dan posisi penting di dewan direksi, termasuk CEO Sam Altman dan Greg Brockman, bisa terancam.

Menanggapi situasi ini, Zilis memberikan kesaksian bahwa hubungannya dengan Musk tidak memengaruhi penilaian dan keputusannya sebagai anggota dewan OpenAI. Ia bahkan sempat mendukung investasi besar Microsoft sebesar 10 miliar dolar AS ke OpenAI, sebuah langkah yang dikritik keras oleh Musk. Zilis mengungkapkan bahwa pandangannya terhadap OpenAI mulai berubah setelah kritik tajam Musk terhadap investasi tersebut, termasuk keterlibatan CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam pemulihan Altman sebagai CEO setelah sempat digulingkan. Ia menyatakan, "Tampaknya semua yang telah kami bangun bersama sejak awal sebagai lembaga nirlaba untuk sekadar mempertahankan misi menjadikan ini baik bagi kemanusiaan, entah bagaimana telah direnggut atau kehilangan taringnya."

Perjalanan Zilis dengan Musk dimulai pada tahun 2016, ketika ia pertama kali terlibat dengan OpenAI sebagai penasihat. Hubungan mereka kemudian berkembang menjadi hubungan romantis singkat yang kemudian bertransformasi menjadi persahabatan erat, yang pada akhirnya berujung pada kolaborasi profesional. Saat ini, Zilis memegang posisi senior di beberapa perusahaan Musk, termasuk Tesla, xAI, dan Neuralink.

Menjelang akhir tahun 2020, Musk mengajukan proposal yang berbeda kepada Zilis, yaitu untuk menjadi ayah dari anak-anaknya. Zilis menceritakan bahwa Musk secara umum mendorong orang-orang di sekitarnya untuk memiliki anak. Menyadari bahwa Zilis belum memiliki anak, Musk menawarkan diri untuk menjadi "donatur" jika Zilis tertarik. Anak kembar mereka akhirnya lahir melalui program bayi tabung pada tahun 2021.

Dalam upaya menjaga privasi, identitas ayah dari anak-anak Zilis dirahasiakan dari publik, bahkan dari ayahnya sendiri, karena Zilis menandatangani perjanjian kerahasiaan. Namun, pada tahun 2022, publikasi Business Insider membongkar berita tersebut. Awalnya, Zilis menggambarkan peran Musk sebagai sekadar donor, namun seiring waktu, peran Musk berkembang menjadi ayah penuh waktu, dan mereka kemudian dikaruniai dua anak lagi. Kasus ini terus bergulir, menyoroti bagaimana hubungan pribadi dan ambisi profesional dapat saling terkait dalam dunia teknologi yang dinamis.

Also Read

Tags