Tenggara Aceh Dilanda Bencana Air Bah, Ratusan Jiwa Terdampak dan Puluhan Hunian Rusak

Inka Kristi

Aceh Tenggara dilanda bencana alam dahsyat berupa banjir bandang yang menerjang dua desa sekaligus, yakni Desa Lawe Tua Gabungan dan Desa Lawe Tua Makmur, di Kecamatan Lawe Sigala-gala. Peristiwa ini mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan pada puluhan rumah warga, dengan tingkat kerusakan bervariasi mulai dari ringan hingga berat. Kejadian tragis ini terjadi pada Sabtu malam, 9 Mei, sekitar pukul 22.00 WIB, ketika curah hujan yang tinggi sejak sore hari menyebabkan peningkatan drastis pada volume air sungai di wilayah tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, dalam keterangannya kepada awak media, menguraikan kronologi awal bencana. Menurutnya, peningkatan debit air sungai yang luar biasa itu tidak hanya membawa volume air yang besar, tetapi juga material alam seperti bebatuan besar dan batang kayu gelondongan. Material-material ini kemudian bergerak deras mengikuti aliran sungai dan sayangnya, menyumbat salah satu jembatan yang ada di area tersebut.

Penyumbatan jembatan oleh material alam tersebut menciptakan efek domino yang sangat merugikan bagi pemukiman warga. Air sungai yang tidak dapat mengalir lancar akhirnya meluap ke daratan, membanjiri area permukiman warga. Selain air, batang-batang kayu dan lumpur tebal juga ikut terseret dan menyapu kawasan perumahan, bahkan menutupi akses jalan nasional yang menghubungkan Kutacane dengan Medan. Dampak dari penutupan jalan ini sangat terasa, menyebabkan kelumpuhan aktivitas transportasi yang berlangsung hingga keesokan paginya.

Bahron Bakti lebih lanjut merinci tingkat kerusakan yang dialami oleh rumah-rumah warga. Ia melaporkan bahwa dari total 26 rumah yang terdampak, sebanyak empat unit mengalami kerusakan berat. Lima belas unit lainnya mengalami kerusakan sedang, sementara tujuh unit rumah dilaporkan hanya mengalami kerusakan ringan. Menyadari skala bencana ini, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Mereka dibantu dengan satu unit alat berat untuk mempercepat proses pembersihan puing-puing dan material sisa banjir.

Meskipun bencana banjir bandang ini menyebabkan kerusakan fisik yang cukup luas, kabar baiknya adalah tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, jumlah warga yang terdampak secara langsung oleh banjir ini cukup banyak, mencapai 155 jiwa. Saat ini, kondisi air sungai dilaporkan berangsur-angsur surut, memberikan sedikit kelegaan bagi warga yang terdampak. Upaya penanganan darurat dan pemulihan terus dilakukan oleh pihak berwenang dan relawan untuk membantu meringankan beban para korban.

Kejadian banjir bandang di Aceh Tenggara ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana alam yang semakin sering terjadi, terutama di musim penghujan. Perubahan iklim dan degradasi lingkungan diduga menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana ini. Tindakan mitigasi jangka panjang, seperti penataan ulang daerah aliran sungai, reboisasi hutan di hulu, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, menjadi krusial untuk mencegah atau setidaknya mengurangi risiko bencana serupa di masa depan.

Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, ini merupakan pengingat akan kerapuhan kehidupan manusia di hadapan kekuatan alam. Meskipun infrastruktur dan hunian warga mengalami kerusakan, semangat gotong royong dan kepedulian sosial diharapkan dapat membantu proses pemulihan dan membangun kembali kehidupan warga yang terdampak. Pihak BPBA dan BPBD terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan bantuan yang dibutuhkan oleh para korban dapat tersalurkan dengan baik dan efisien. Langkah-langkah pemulihan pasca-bencana akan menjadi fokus utama dalam beberapa waktu ke depan, mencakup penyediaan tempat tinggal sementara, bantuan logistik, serta dukungan psikososial bagi mereka yang membutuhkan. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meninjau kembali tata ruang wilayah untuk mengidentifikasi area-area yang berisiko tinggi terdampak bencana banjir dan mengambil langkah pencegahan yang tepat agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Also Read

Tags