Pep Guardiola, juru taktik Manchester City, memilih untuk bersikap pragmatis terkait kontroversi yang mewarnai kemenangan Arsenal atas West Ham United. Dalam pertandingan lanjutan Liga Primer Inggris, Arsenal berhasil meraih tiga poin berkat gol semata wayang mereka, sementara sebuah gol balasan dari West Ham di menit-menit akhir harus dianulir oleh tinjauan Video Assistant Referee (VAR). Keputusan ini, yang mengesampingkan gol penyama kedudukan dari tim tuan rumah, memang memicu perdebatan sengit di kalangan pecinta sepak bola, terutama terkait interpretasi pelanggaran yang mendahuluinya.
Gol yang berujung pada kemenangan Arsenal tersebut terjadi dalam situasi yang cukup krusial. West Ham United sempat merasakan euforia ketika bola bersarang di gawang Arsenal, menyamakan kedudukan yang tadinya berpihak pada tim tamu. Namun, sorak-sorai tersebut seketika mereda ketika wasit memutuskan untuk meninjau kembali insiden tersebut melalui teknologi VAR. Setelah melalui proses pemeriksaan yang cermat, gol tersebut akhirnya dinyatakan tidak sah. Alasan di balik keputusan tersebut adalah adanya indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh pemain West Ham, Pablo, terhadap kiper Arsenal, David Raya, dalam sebuah kemelut di area penalti saat terjadi tendangan sudut. Pablo diduga melakukan hambatan terhadap pergerakan Raya dengan menggunakan lengan kirinya, yang berakibat pada kegagalan Raya dalam mengamankan bola dengan sempurna.
Menanggapi pertanyaan mengenai drama VAR yang melibatkan Arsenal ini, Pep Guardiola menunjukkan sikap yang jauh dari keterlibatan emosional. Ia berpendapat bahwa pertanyaan mengenai keputusan wasit dan interpretasi VAR sebaiknya diarahkan kepada pihak yang berwenang, yaitu para pengadil di lapangan. Guardiola menekankan bahwa VAR telah menjadi bagian integral dari permainan sepak bola selama bertahun-tahun dan semua tim, termasuk Manchester City, telah beradaptasi dengan keberadaannya. "Pertanyaan itu seharusnya ditujukan kepada wasit, karena itu adalah keputusan mereka," ujar Guardiola, seperti dikutip dari salah satu media terkemuka. Ia menambahkan bahwa, "VAR telah digunakan selama bertahun-tahun, bukan baru diterapkan pada akhir pekan lalu. Kami telah beradaptasi dengannya."
Lebih lanjut, Guardiola menyiratkan bahwa fokus seharusnya tidak terlalu terperosok dalam detail-detail kontroversi yang berada di luar kendali tim. Filosofi permainan yang dianut oleh Guardiola seringkali menekankan pada kemampuan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dan terus melangkah maju. Sikap ini sangat terlihat ketika ia menyatakan, "Jika ada hal-hal yang tidak dapat kami kendalikan, maka lupakan saja." Pernyataan ini mencerminkan mentalitas juara yang tidak ingin membuang energi untuk hal-hal yang tidak produktif, melainkan mengalihkan perhatian pada aspek-aspek yang dapat memengaruhi performa tim di lapangan.
Kemenangan Arsenal atas West Ham ini sendiri memiliki implikasi penting dalam perburuan gelar Liga Primer Inggris. Dengan tambahan tiga poin, Arsenal semakin kokoh di puncak klasemen dengan mengumpulkan 79 poin dari 36 pertandingan. Posisi mereka kini semakin menjauh dari kejaran Manchester City, yang berada di peringkat kedua dengan selisih lima poin. Manchester City sendiri baru saja menyelesaikan 35 pertandingan, artinya mereka masih memiliki satu laga lebih sedikit dibandingkan Arsenal. Pertandingan yang akan datang melawan Crystal Palace pada Kamis (14/5) dini hari WIB menjadi krusial bagi The Citizens. Mereka wajib meraih kemenangan untuk memelihara asa dalam persaingan gelar juara dan merapatkan jarak dengan pemuncak klasemen, Arsenal.
Situasi ini menghadirkan nuansa persaingan yang semakin memanas di penghujung musim Liga Primer Inggris. Setiap pertandingan menjadi sangat menentukan, dan keputusan-keputusan kontroversial, termasuk yang melibatkan VAR, seringkali dapat memengaruhi arah perolehan poin. Meskipun demikian, bagi seorang manajer sekaliber Pep Guardiola, penting untuk tetap menjaga fokus dan tidak larut dalam drama yang terjadi di luar lapangan. Adaptasi terhadap teknologi baru dan kemampuan untuk melupakan hal-hal yang tidak dapat diubah menjadi kunci untuk tetap kompetitif di level tertinggi.
Perlu dicatat bahwa perdebatan mengenai penggunaan VAR di sepak bola memang terus bergulir. Beberapa pihak menilai bahwa VAR telah membantu mengurangi kesalahan-kesalahan fundamental dalam pertandingan, sementara yang lain berpendapat bahwa VAR justru memperlambat jalannya permainan dan terkadang menimbulkan interpretasi yang subjektif. Dalam kasus kemenangan Arsenal ini, pandangan bahwa pemain Arsenal juga kerap melakukan tindakan serupa terhadap kiper lawan saat situasi sepak pojok namun tidak mendapatkan hukuman, semakin menambah kompleksitas perdebatan. Namun, Guardiola tampaknya memilih untuk tidak terjebak dalam perdebatan tersebut, melainkan fokus pada apa yang bisa dikontrol oleh timnya.
Dengan sisa pertandingan yang semakin menipis, setiap poin menjadi sangat berharga. Manchester City dituntut untuk meraih hasil maksimal di setiap laga sisa, sembari berharap Arsenal terpeleset. Perjuangan mereka akan diuji dalam pertandingan mendatang melawan Crystal Palace, di mana kemenangan menjadi satu-satunya opsi untuk terus memberikan tekanan pada pemuncak klasemen. Sikap pragmatis Guardiola dalam menanggapi kontroversi VAR ini menunjukkan kedewasaan taktisnya dalam menghadapi tekanan persaingan gelar juara yang ketat. Ia lebih memilih untuk melihat ke depan, fokus pada performa timnya sendiri, dan membiarkan pihak yang berwenang menangani urusan perwasitan dan implementasi teknologi VAR.






