Kekalahan pahit Bayern Munich dari Real Madrid dalam babak semifinal Liga Champions musim ini kembali menorehkan luka di perjalanan karier Harry Kane. Meski performa individualnya tetap garang, terutama dalam urusan mencetak gol, trofi-trofi prestisius seolah enggan berpihak padanya. Kegagalan menembus partai puncak kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa ini menambah daftar panjang momen krusial yang harus dilewati Kane tanpa raihan gelar mayor.
Perjalanan Bayern Munich harus terhenti dengan agregat yang tipis melawan tim raksasa Spanyol tersebut, meninggalkan Kane dalam sorotan tajam. Ini bukan kali pertama striker tajam asal Inggris ini harus menelan pil pahit di fase krusial kompetisi besar. Sejak berseragam panzer Bavaria, Kane memang menunjukkan ketajamannya yang luar biasa. Musim ini saja, ia telah mengemas 14 gol di ajang Liga Champions, membuktikan bahwa naluri predatornya tidak pernah tumpul. Di kancah domestik Bundesliga, catatan golnya pun tak kalah impresif, dengan 33 gol dari 29 pertandingan, sebuah statistik yang menggarisbawahi perannya sebagai juru gedor utama tim.
Bahkan, banyak pihak yang memprediksi bahwa jika saja Bayern Munich mampu melaju hingga partai final dan menjuarainya, Kane berpotensi besar menjadi kandidat kuat peraih Ballon d’Or tahun ini. Namun, realitas berkata lain. Kegagalan di semifinal kali ini tampaknya kembali memupus harapan tersebut, setidaknya untuk sementara.
Sang legenda Liverpool dan pundit sepakbola ternama, Jamie Carragher, tak bisa menyembunyikan rasa simpatinya terhadap nasib Kane. Carragher secara terbuka menyatakan bahwa Kane pantas dianggap sebagai salah satu striker terbaik yang pernah dilahirkan oleh tanah Inggris. Namun, ia juga mengakui bahwa rekam jejaknya dalam hal perolehan trofi bergengsi masih terbilang minim.
"Saya sudah beberapa kali mengungkapkan pandangan saya, bahwa Harry Kane adalah salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Sangat disayangkan, ia belum pernah merasakan manisnya gelar juara dalam kompetisi-kompetisi besar," ungkap Carragher saat diwawancarai oleh CBS Sports.
Rekam jejak Kane memang menunjukkan bahwa ia kerap kali mampu membawa timnya hingga ke babak final berbagai kompetisi bergengsi. Namun, selalu ada saja batu sandungan yang menghalangi langkahnya untuk meraih gelar juara. Ia pernah merasakan atmosfer final Liga Champions bersama Tottenham Hotspur, tim yang membesarkannya. Bersama tim nasional Inggris, ia juga pernah mencapai final Euro, serta semifinal Piala Dunia. Dan kini, langkahnya terhenti lagi di semifinal Liga Champions bersama Bayern Munich. Rentetan pencapaian tersebut, meski membanggakan, selalu diakhiri dengan kekecewaan karena kegagalan meraih trofi puncak.
"Ia pernah mencapai final Liga Champions bersama Tottenham, kemudian final Euro bersama Inggris dan semifinal Piala Dunia, dan sekarang harus terhenti di semifinal Liga Champions. Sungguh sebuah nasib yang kurang beruntung baginya," papar Carragher lebih lanjut. Ia menambahkan bahwa sepakbola pada hakikatnya adalah sebuah permainan tim, bukan sekadar performa individu semata.
Carragher kemudian menyoroti sebuah fenomena menarik yang tampaknya menjadi kutukan bagi para striker subur asal Inggris. Ia berpendapat bahwa para penyerang hebat dari Inggris memiliki kecenderungan untuk kesulitan meraih trofi-trofi besar. Menurutnya, sebelum Harry Kane, sudah ada beberapa nama besar di dunia sepakbola Inggris yang mengalami nasib serupa.
"Saya rasa ini memang menjadi sebuah persoalan di Inggris, di mana para striker hebat terkadang kesulitan untuk memenangkan trofi bergengsi. Sebelum Harry Kane, ada beberapa nama seperti Gary Lineker dan Alan Shearer, yang rekor pribadi mereka luar biasa, namun jumlah trofi yang mereka raih tidaklah banyak," tutupnya, mengaitkan nasib Kane dengan generasi striker Inggris sebelumnya yang juga memiliki kisah serupa.
Tragedi Harry Kane ini tentu menjadi pengingat bahwa dalam sepakbola, bahkan seorang pemain dengan talenta luar biasa dan produktivitas gol yang mengagumkan, tetap membutuhkan keberuntungan dan kekuatan tim yang solid untuk dapat mengangkat trofi-trofi besar. Perjalanan sang maestro gol ini masih terus berlanjut, dan publik sepakbola akan terus menantikan apakah kutukan tanpa gelar ini akan segera berakhir.






