Kekalahan tipis West Ham United dari Arsenal di Stadion London pada Minggu (10/5/2026) kemarin menyisakan rasa frustrasi mendalam bagi kapten tim, Jarrod Bowen. Pemicunya adalah keputusan kontroversial wasit Chris Kavanagh yang menganulir gol penyama kedudukan yang dicetak Callum Wilson di menit-menit akhir pertandingan. Bowen secara tegas mengkritik keputusan tersebut, menilai bahwa kontak fisik yang terjadi dalam situasi sepak pojok merupakan hal yang lumrah dalam permainan sepak bola modern, dan merasa ada perlakuan yang tidak adil terhadap timnya.
Pertandingan yang berakhir dengan skor 0-1 untuk keunggulan Arsenal itu sempat diwarnai momen krusial di masa injury time babak kedua. West Ham berhasil menciptakan gol balasan yang sempat membangkitkan asa para penggemar. Namun, kebahagiaan tersebut tak berlangsung lama. Setelah melalui proses pengecekan yang memakan waktu sekitar empat menit oleh Video Assistant Referee (VAR) dan wasit di lapangan, gol tersebut akhirnya dinyatakan tidak sah.
Keputusan Kavanagh didasarkan pada temuan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pemain West Ham, Pablo, terhadap kiper Arsenal, David Raya. Tangan Pablo dinilai telah mengganggu upaya Raya dalam mengamankan bola yang datang dari tendangan sudut. Bola yang lepas dari genggaman Raya tersebut kemudian bergulir dan akhirnya disambar oleh Wilson menjadi gol. Namun, berkat intervensi VAR yang dipimpin oleh Darren England, gol tersebut terpaksa dianulir karena dianggap terjadi pelanggaran sebelumnya.
Bowen merasa keputusan tersebut tidak mencerminkan dinamika permainan yang sesungguhnya. Ia menyoroti bahwa di saat yang bersamaan, sejumlah pemain West Ham juga mengalami gangguan serupa dari pemain-pemain Arsenal. Keheranan Bowen memuncak ketika kontak fisik yang dialami Raya dianggap sebagai pelanggaran, padahal sang kiper sendiri yang mengambil inisiatif keluar dari posnya untuk mencoba mengintersep bola.
"Kiper seharusnya mendapatkan perlindungan lebih, namun kita sering melihat banyak insiden saling dorong dan perebutan bola di dalam kotak penalti," ujar Bowen dalam wawancara pasca-laga kepada Sky Sports, seperti dikutip oleh ESPN. Ia melanjutkan, "Jika setiap kontak seperti itu dianggap pelanggaran, maka seharusnya setiap situasi sepak pojok akan menghasilkan tendangan penalti. Itu satu-satunya cara yang konsisten untuk menerapkannya."
Bowen mencoba menjelaskan sudut pandangnya mengenai insiden tersebut. Ia memahami bahwa ada aturan yang melindungi kiper agar tidak dijatuhkan secara brutal dan keberadaan tangan yang mengganggu dianggap sebagai pelanggaran. Namun, ia menekankan bahwa dalam situasi sepak pojok, kiper yang maju keluar dari sarangnya untuk mengantisipasi bola harus siap menghadapi kemungkinan adanya kontak fisik. "Ini adalah sepak pojok, sebuah situasi yang memang sarat dengan kontak fisik. Ini Premier League, di mana kontak dan benturan adalah bagian yang tak terpisahkan dari permainan," tegas Bowen.
Lebih lanjut, Bowen mengungkapkan rasa ketidakadilan yang dirasakan timnya, yang menurutnya tidak hanya terjadi pada pertandingan tersebut. Ia menarik paralel dengan insiden di pertandingan sebelumnya melawan Brentford, di mana pemain West Ham, Tomas Soucek, diklaim dijatuhkan di kotak penalti namun tidak mendapatkan hadiah tendangan penalti. "Kami merasa lebih dirugikan dalam pertandingan ini. Kami mengalami hal serupa pekan lalu di Brentford ketika [Tomas] Soucek dijatuhkan dan kami tidak mendapatkan penalti. Saya berbicara tentang konsistensi dalam pengambilan keputusan. VAR akan tetap ada, kita tahu itu, tetapi saya hanya berpikir keputusan-keputusan seperti ini… orang-orang mungkin akan mengatakan saya terdengar kesal, tetapi saya hanya jujur. Jika Anda melihat beberapa keputusan dengan cukup cermat, Anda akan selalu menemukan sesuatu untuk dijadikan dasar penalti, dan itulah yang terjadi pada akhirnya," keluh Bowen.
Bowen juga secara khusus menyoroti gaya permainan Arsenal yang menurutnya sering kali mengandalkan kekuatan fisik di sekitar kiper lawan saat situasi bola mati. Ia berpendapat bahwa Arsenal sendiri seharusnya memahami dan menyadari bahwa kontak fisik adalah hal yang wajar terjadi, dan mereka tidak bisa serta-merta mengklaim dilanggar ketika hal serupa terjadi pada mereka.
"Arsenal adalah contoh terbaik dari tim yang sangat baik dalam memanfaatkan bola mati – mereka bermain fisik dan memang ingin menempatkan bola di area yang sulit dijangkau kiper," ujar Bowen. Ia menambahkan, "Saya yakin kita bisa meninjau kembali setiap pertandingan dan menemukan momen di mana kiper dilanggar tetapi tidak mendapatkan keputusan yang menguntungkan. Jika Anda akan memberikan hukuman penalti untuk setiap kejadian seperti itu, maka seharusnya itu diberikan setiap pekan untuk setiap insiden serupa."
Penegasan Bowen ini mencerminkan kekecewaannya terhadap inkonsistensi dalam penerapan aturan, khususnya terkait kontak fisik di dalam kotak penalti. Ia berharap agar para pengadil lapangan dapat melihat pertandingan secara keseluruhan dan membuat keputusan yang lebih adil serta konsisten, sehingga tidak ada tim yang merasa dirugikan oleh interpretasi yang berbeda-beda terhadap sebuah aturan.






