Ketidakpastian menyelimuti jadwal pertandingan prestisius Derby della Capitale, duel sekota antara AS Roma dan Lazio. Penyebab utama dari kebingungan jadwal ini adalah beredarnya kabar mengenai potensi bentrokan waktu dengan gelaran akbar Italian Open 2026, sebuah turnamen tenis internasional yang juga akan diselenggarakan di ibu kota Italia. Keputusan final mengenai penentuan hari dan jam pertandingan derby klasik ini masih menggantung, menciptakan dilema bagi para pemangku kepentingan sepak bola dan otoritas keamanan kota.
Rencana awal menempatkan Derby Roma pada hari Minggu, 12 Mei 2026. Pada tanggal yang sama, para penggemar tenis akan berbondong-bondong memadati Foro Italico, Roma, untuk menyaksikan partai puncak Italian Open 2026. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan aparat kepolisian. Dengan kedua acara besar tersebut dijadwalkan berlangsung di lokasi yang berdekatan, hanya berjarak sekitar 500 meter, otoritas keamanan merasa sangat perlu untuk melakukan penyesuaian jadwal demi mencegah potensi kekacauan dan memastikan kelancaran kedua acara. Kekhawatiran utama adalah potensi kepadatan massa yang berlebihan dan kesulitan dalam mengelola pergerakan ribuan penonton dari kedua acara secara bersamaan, terutama mengingat minimnya jarak antara kedua venue.
Pihak penyelenggara Serie A, melalui CEO Lega Serie A, Luigi De Siervo, tampaknya enggan untuk memindahkan jadwal Derby Roma ke hari lain. Argumen yang dikemukakan adalah bahwa perubahan jadwal ke hari yang berbeda sangat sulit diakomodasi dalam kalender kompetisi yang padat. Solusi yang ditawarkan oleh De Siervo adalah dengan menggeser jam kick-off Derby Roma. Tujuannya adalah agar pertandingan sepak bola tersebut tidak selesai terlalu mepet dengan dimulainya final Italian Open. Strategi ini diharapkan dapat memberikan jeda waktu yang cukup bagi penonton dan aparat keamanan untuk melakukan transisi dan persiapan. Namun, usulan ini tampaknya tidak sepenuhnya memuaskan semua pihak yang terlibat.
Kebijakan Lega Serie A yang terkesan kaku dalam memindahkan jadwal Derby Roma menuai kritik tajam dari Gubernur Wilayah Lazio, Francesco Rocca. Beliau secara terang-terangan melontarkan pernyataan yang menilai keputusan tersebut sebagai tindakan yang terkesan egois. Rocca merasa bahwa sikap Serie A tersebut kurang mempertimbangkan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat dan kota Roma. Ia secara terbuka berharap agar Menteri Dalam Negeri, Matteo Piantedosi, beserta Kepala Prefektur Roma, Lamberto Giannini, dapat turun tangan secara langsung untuk memberikan intervensi. Harapan Rocca adalah agar Serie A mau mempertimbangkan kembali keputusannya dan memindahkan jadwal Derby Roma ke hari lain yang lebih kondusif.
Francesco Rocca mengungkapkan pandangannya bahwa akan menjadi langkah yang lebih bijaksana jika pertandingan Derby tersebut dijadwalkan pada hari Senin, 18 Mei 2026. Beliau merasa tidak adil apabila para pendukung tim sepak bola yang disalahkan atas potensi masalah yang timbul, karena menurutnya, ini merupakan sebuah kegagalan dalam proses perencanaan yang matang. Gubernur Rocca secara spesifik berharap agar campur tangan dari Menteri Piantedosi dan Prefek Giannini dapat memperbaiki apa yang ia sebut sebagai "sikap dangkal dan egois" dari Lega Serie A. Pernyataan ini mengindikasikan adanya ketidakpuasan mendalam terhadap pendekatan yang diambil oleh otoritas sepak bola profesional Italia.
Gubernur Rocca sangat mendesak agar keputusan final mengenai jadwal Derby Roma dapat segera ditetapkan. Situasi ini tidak hanya berdampak pada satu pertandingan sepak bola saja. Ada indikasi bahwa empat pertandingan lain di Serie A juga berpotensi mengalami penyesuaian jadwal sebagai imbas dari diselenggarakannya final Italian Open. Keempat pertandingan tersebut meliputi duel antara Juventus melawan Fiorentina, Como menjamu Parma, Genoa yang akan berhadapan dengan Milan, serta pertandingan antara Pisa melawan Napoli. Keempat laga ini, bersama dengan Derby Roma, menunjukkan betapa kompleksnya penataan jadwal kompetisi ketika berhadapan dengan event olahraga berskala besar lainnya yang menggunakan infrastruktur kota yang sama.
Dampak potensial dari bentrokan jadwal ini memang terasa signifikan. Tidak hanya bagi para penggemar yang antusias menantikan pertandingan tim kesayangan mereka, tetapi juga bagi aspek logistik, keamanan, dan operasional kota Roma secara keseluruhan. Kemacetan lalu lintas, potensi peningkatan kerumunan di area publik, serta kebutuhan akan pengerahan personel keamanan yang lebih besar menjadi beberapa poin penting yang harus dipertimbangkan secara matang. Keengganan untuk beradaptasi atau mencari solusi kompromi yang lebih fleksibel dari pihak Serie A, seperti yang dikemukakan oleh Gubernur Rocca, menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana koordinasi antar lembaga dan pertimbangan dampak sosial menjadi prioritas dalam pengambilan keputusan.
Perdebatan mengenai jadwal ini secara tidak langsung menyoroti pentingnya perencanaan terpadu antar berbagai pemangku kepentingan, baik dari sektor olahraga maupun pemerintahan kota. Mengingat Italia memiliki tradisi olahraga yang kuat dan kota-kota seperti Roma seringkali menjadi tuan rumah berbagai acara internasional, kemampuan untuk mengelola dan menyelaraskan jadwal acara-acara besar menjadi krusial. Harapannya, intervensi dari otoritas yang lebih tinggi dapat membawa titik terang dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak, memastikan bahwa gelaran olahraga di Roma dapat berjalan lancar dan aman tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan masyarakat. Kejelasan jadwal akan memberikan kepastian bagi para penggemar, klub, dan juga otoritas terkait untuk melakukan persiapan yang optimal.






