Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menggarisbawahi pentingnya tindak lanjut pasca-suksesnya penyelenggaraan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda. Ia menekankan bahwa acara megah tersebut bukan sekadar tontonan seni dan budaya semata, melainkan sebuah momentum krusial untuk menggerakkan roda pelestarian dan pengembangan warisan leluhur. Sebagai wujud nyata komitmennya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinannya akan segera merampungkan rencana strategis untuk revitalisasi dan penataan fasilitas seni dan budaya di seluruh penjuru provinsi.
Salah satu proyek prioritas yang diungkapkan adalah perbaikan monumental Museum Pajajaran. Proyek ambisius ini diperkirakan menelan anggaran senilai Rp9 miliar, menunjukkan keseriusan Pemprov Jabar dalam mengembalikan kejayaan dan fungsi vital museum sebagai pusat edukasi dan apresiasi seni budaya. Lebih dari sekadar museum, rencana penataan juga merambah ke area publik di sepanjang rute kirab. Infrastruktur vital seperti jalan, trotoar, dan ruang terbuka hijau akan mendapatkan sentuhan perbaikan. Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, mengemukakan bahwa penataan komprehensif ini akan mencakup perbaikan jalan, trotoar, pencahayaan, hingga penanaman taman. Ia berharap, dengan adanya penataan ini, para kepala daerah di tingkat kota/kabupaten dapat lebih fokus pada upaya pengembangan kelurahan-kelurahan di wilayah masing-masing. Area yang ditata ini nantinya akan diberi nama "Palataran Binokasih," sebuah penamaan yang sarat makna dan kental nuansa budaya Sunda. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh KDM pada Senin, 11 Mei 2026, merespons antusiasme dan keberhasilan gelaran Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang baru saja usai.
Perhelatan akbar Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang mengambil tema "Nitis Wanci Batu Tulis" itu sendiri telah sukses digelar pada Jumat malam, 8 Mei 2026, di Kota Bogor. Rute kirab yang membentang dari Museum Pajajaran, Jalan Batutulis, hingga Lawang Suryakencana, dipadati ribuan warga yang antusias menyaksikan kekayaan seni tradisi dari 27 kota dan kabupaten se-Jawa Barat. Kemeriahan acara semakin terasa dengan partisipasi masyarakat dari kampung adat serta peserta kirab yang berasal dari Jawa Tengah, Jakarta, dan Banten.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyambut baik dan menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gubernur Dedi Mulyadi atas segala upaya yang telah dan akan dilakukan demi mengembalikan marwah dan keagungan budaya Sunda. Ia mengakui peran sentral KDM dalam membawa Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, sebuah artefak bersejarah yang sebelumnya tersimpan di Kerajaan Sumedang Larang, melintasi berbagai wilayah hingga tiba di Kota Bogor. Dedie A. Rachim menegaskan pandangannya bahwa kirab budaya semacam ini bukanlah sekadar kegiatan seremonial belaka. Lebih dari itu, acara ini merupakan momen berharga untuk menghormati serta merayakan warisan tak ternilai dari para leluhur Sunda. Acara ini juga menjadi sarana efektif untuk menanamkan dan menyampaikan nilai-nilai luhur budaya agar dapat dipelajari dan diinternalisasi oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang merupakan pewaris masa depan.
Menyikapi rencana konkret penataan fasilitas seni dan budaya yang diutarakan oleh Gubernur, Dedie A. Rachim menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Bogor untuk berkolaborasi. Ia memastikan bahwa pihaknya akan segera menyusun perencanaan dan alokasi anggaran yang matang, sesuai dengan koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Sinergi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten diharapkan dapat mempercepat terwujudnya visi Jawa Barat yang berbudaya dan lestari.
Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bogor ini memang menjadi sorotan utama karena berhasil menghadirkan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, sebuah simbol kebesaran dan sejarah Sunda. Kehadiran mahkota tersebut semakin menambah nilai historis dan spiritual dari seluruh rangkaian acara. Ribuan warga yang memadati jalur kirab menunjukkan betapa besar kecintaan masyarakat terhadap akar budaya mereka. Antusiasme ini menjadi modal berharga bagi pemerintah dalam menggalakkan program-program pelestarian budaya. Tidak hanya dari Jawa Barat, acara ini juga turut memeriahkan pagelaran seni tradisi dari daerah lain, menciptakan kolaborasi budaya lintas wilayah yang semakin memperkaya khazanah seni dan budaya nasional. Pengalaman menyaksikan berbagai ragam seni tradisi, mulai dari pertunjukan masyarakat kampung adat hingga penampilan peserta kirab dari berbagai provinsi, memberikan pengalaman edukatif yang mendalam bagi seluruh pengunjung. Hal ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya milik satu daerah, melainkan sebuah warisan bersama yang patut dijaga dan dikembangkan secara kolektif.
Gubernur Dedi Mulyadi tidak berhenti pada penataan fisik semata. Ia memiliki visi jangka panjang untuk menjadikan Jawa Barat sebagai episentrum kebudayaan yang tidak hanya menjaga kelestarian tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Melalui revitalisasi fasilitas seni budaya, KDM berharap dapat tercipta ruang-ruang publik yang nyaman dan representatif bagi para seniman, budayawan, serta masyarakat umum untuk berkarya, berdiskusi, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan seni dan budaya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk membangkitkan kembali semangat kecintaan terhadap seni dan budaya Sunda di kalangan generasi muda, yang terkadang tergerus oleh arus globalisasi dan modernisasi. Dengan adanya fasilitas yang memadai, diharapkan lahir kembali karya-karya seni inovatif yang tetap berakar pada tradisi, serta mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Komitmen ini bukan sekadar janji, melainkan langkah konkret yang diharapkan akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kemajuan seni dan budaya di Jawa Barat.






