Generasi Muda Pontianak Dibekali Pilar Kebangsaan untuk Indonesia Emas 2045

Inka Kristi

Pontianak, Kalimantan Barat – Semangat kebangsaan bergelora di bumi Khatulistiwa saat Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Hidayat Nur Wahid, secara resmi membuka rangkaian Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Ajang yang diselenggarakan pada tahun 2026 ini diikuti oleh ratusan siswa perwakilan dari sembilan sekolah menengah atas terbaik di seluruh provinsi, baik negeri maupun swasta, didampingi oleh para guru mereka.

Sembilan institusi pendidikan yang berpartisipasi dalam kompetisi pengetahuan kebangsaan ini adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Singkawang, SMAN 1 Seponti, SMA Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santu Petrus Pontianak, SMAN 1 Sambas, SMAN 1 Sanggau, MAS Darussalam Sengkubang, dan MAN 1 Sintang.

Dalam pidato pembukaannya, Hidayat Nur Wahid menekankan peran krusial generasi muda saat ini, yang sering diidentifikasi sebagai Generasi Z, dalam mewujudkan visi Indonesia Emas pada tahun 2045. Ia menyatakan bahwa para pelajar yang kini berpartisipasi dalam sosialisasi Empat Pilar MPR RI melalui metode LCC inilah yang akan menjadi pewaris dan pengisi masa depan bangsa. Oleh karena itu, persiapan diri sejak dini, dimulai dari tahun 2026, menjadi sebuah keniscayaan.

HNW, sapaan akrab Hidayat Nur Wahid, menarik paralel historis dengan para pendiri bangsa yang meletakkan fondasi kemerdekaan Indonesia. Ia mencontohkan bagaimana pada kurun waktu 1924-1925, para pemuda terpelajar Indonesia, baik yang menempuh pendidikan di dalam maupun luar negeri, telah menggemakan semangat kemerdekaan melalui organisasi seperti Perhimpunan Indonesia dan penerbitan majalah "Suluh Indonesia". Perjuangan mereka saat itu adalah tuntutan konkret akan kemerdekaan Indonesia.

"Hukum sejarah menunjukkan bahwa untuk memahami nasib bangsa dua dekade mendatang, kita perlu melihat apa yang terjadi dua dekade sebelumnya," ujar HNW, mengutip prinsip tersebut. Ia melanjutkan, "Maka, bagi generasi Z di Pontianak dan Kalimantan Barat, yang berada 20 tahun sebelum 2045, yaitu saat ini, sangat penting untuk mempersiapkan diri agar dapat berkontribusi secara maksimal dalam mewujudkan dan mengisi kejayaan Indonesia Emas 2045."

Pernyataan tersebut disampaikan oleh HNW usai acara pembukaan yang secara simbolis ditandai dengan pemukulan gendang di Kota Pontianak pada Sabtu, 9 Mei 2026. Ia mengaitkan momentum ini dengan jejak sejarah tokoh besar dari Kalimantan Barat, yaitu Sultan Syarief Abdul Hamid Al-Qadri II. Sultan Syarief Abdul Hamid Al-Qadri II, yang pada masanya belajar dengan tekun, kemudian turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia pada era 1945-an. Ia bergabung dengan Republik Indonesia dan turut mempertahankan kemerdekaan dengan memberikan sumbangan berupa meriam dan senjata.

Lebih lanjut, HNW mengingatkan bahwa Sultan Syarif Hamid Al-Qadri II bahkan mendapatkan amanah langsung dari Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1950 untuk merancang Lambang Negara Garuda Pancasila. "Lambang Garuda Pancasila kita adalah sebuah kreasi dari seorang pemimpin nasional asal Kalimantan Barat, yaitu Sultan Syarif Al-Qadri II. Beliau dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk menciptakan Lambang Negara Garuda Pancasila, dan hasilnya kini menjadi warisan yang membingkai persatuan kita semua, termasuk kelima sila beserta simbol-simbolnya. Lambang negara yang mempersatukan bangsa Indonesia ini, yang diakui secara resmi melalui kepres, terbukti mampu menjaga eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah karya monumental yang layak diapresiasi oleh bangsa dan pemerintah Indonesia," jelasnya.

Menyikapi hal ini, HNW menyatakan dukungan penuh terhadap usulan dari Kalimantan Barat agar Sultan Abdul Hamid Al-Qadri II dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ia berpendapat bahwa pengakuan ini merupakan langkah penting untuk memperkuat komitmen dalam mencintai dan menjaga keutuhan Indonesia, sekaligus sebagai persiapan dan wujud komitmen dalam menyambut Indonesia Emas 2045. Mengutip perkataan Bung Karno, HNW menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kehadiran para peserta LCC di Kalimantan Barat saat ini, menurutnya, adalah bukti nyata bahwa bangsa yang besar sedang dihadirkan kembali.

Hidayat Nur Wahid menekankan bahwa LCC bukan sekadar ajang kompetisi semata. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai Empat Pilar MPR RI ke dalam diri para peserta. Dengan pemahaman yang mendalam, generasi muda, khususnya Generasi Z, akan lebih siap menghadapi tantangan era disrupsi yang dibanjiri informasi dari luar melalui media sosial tanpa filter. Kemampuan untuk menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan ini akan menjadi penangkal terhadap segala bentuk propaganda yang dapat menyesatkan.

"Ini akan terjadi jika kita tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga mencintai dengan memahami dan menginternalisasi, serta mengamalkan Empat Pilar MPR RI," tambah HNW. Dengan demikian, seluruh peserta LCC diharapkan dapat menjelma menjadi pribadi yang Pancasilais. Mereka akan menjadi individu yang religius, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh propaganda kelompok komunis maupun liberalis. Mereka akan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, sehingga kebal terhadap propaganda terorisme dan ekstremisme. Mereka akan memperkokoh persatuan NKRI dan tidak akan goyah oleh propaganda separatisme.

Melalui pendekatan ini, bangsa Indonesia akan melahirkan generasi yang berkualitas, mampu mengembangkan sikap dan jiwa musyawarah, serta menerima demokrasi demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa menjadi kelompok anti-sosial. Dengan demikian, Generasi Z tidak akan terjebak dalam narasi negatif yang menuding mereka sebagai komunitas yang egois, asosial, hanya ingin menuai hasil tanpa mau berproses, dan anti-sejarah.

"Kita harus membuktikan bahwa framing negatif tersebut adalah jebakan yang sangat merugikan. Terbukti, para generasi muda, para peserta Generasi Z dalam lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR RI ini, sangat mencintai sejarah, bekerja keras melalui proses, dan berjuang meraih kemenangan. Ini adalah upaya untuk mengulang kembali sejarah kejayaan, sebagaimana perjuangan tokoh Pontianak, Sultan Abdul Hamid al-Qadri II. Yaitu, berjuang untuk menjadi juara, bukan hanya dalam lomba, tetapi juga juara dalam mengamalkan Empat Pilar MPR RI," tegas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Dengan demikian, cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat terwujud dengan cara terbaik. Persiapan generasi 20 tahun sebelum 2045 ini, sama seperti persiapan generasi 20 tahun sebelum 1945 yang berhasil melahirkan kemerdekaan Indonesia.

"Dengan demikian, insyaallah, Indonesia pada tahun 2045 benar-benar dapat diisi oleh Generasi Emas yang mencintai Bangsa dan Negara, serta mampu mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI 1945," pungkasnya.

Also Read

Tags