Tragedi Dukono: Pendakian Maut Menelan Dua Nyawa Asing di Lereng Berbahaya

Inka Kristi

Tim penyelamat gabungan di Halmahera Utara mengakhiri operasi pencarian dengan penemuan dua jenazah warga negara Singapura yang tewas saat mendaki Gunung Dukono. Keduanya ditemukan terkubur di bawah tumpukan material vulkanik yang tebal, sebuah akhir tragis bagi petualangan mereka di salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Penemuan ini melengkapi identifikasi tiga korban tewas dalam insiden tersebut, yang juga mencakup seorang pendaki warga negara Indonesia.

Menurut informasi yang dirilis oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, upaya pencarian dua pendaki asing tersebut difokuskan di area yang tidak terlalu jauh dari lokasi penemuan jenazah pendaki pertama, seorang warga negara Indonesia bernama Enjel, yang telah ditemukan sehari sebelumnya. Proses pencarian yang memasuki hari ketiga ini dilaporkan berjalan lebih terarah. Hal ini dimungkinkan berkat penandaan titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban tertimbun oleh pasir vulkanik, yang dilakukan menggunakan sistem koordinat GPS pada operasi sebelumnya.

Evakuasi kedua jenazah warga Singapura tersebut dilaporkan menghadapi sejumlah kendala signifikan. Abdul Muhari menjelaskan bahwa jasad mereka terkubur di bawah lapisan material vulkanik yang memiliki ketebalan dan kedalaman yang cukup mencolok. Selain itu, aktivitas erupsi Gunung Dukono yang terus berlangsung secara fluktuatif menambah kompleksitas operasi. Tim SAR gabungan terpaksa melakukan proses evakuasi dengan sangat hati-hati, memprioritaskan keselamatan seluruh personel yang bertugas di lapangan. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dan koordinasi yang solid di tengah potensi bahaya yang terus menerus mengintai.

Operasi penyelamatan berskala besar ini melibatkan kolaborasi erat dari 98 personel yang berasal dari berbagai instansi dan organisasi. Tim gabungan tersebut terdiri dari perwakilan Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Utara, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat dan Laut, Polisi Perairan dan Udara (Polairud), Brigade Mobil Daerah (Brimobda), Emergency Response Team (ERT) Gosowong, Palang Merah Indonesia (PMI), serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Kerjasama lintas sektoral ini menjadi kunci keberhasilan dalam upaya penanganan bencana dan pencarian korban.

Dengan ditemukannya kedua jenazah warga Singapura tersebut, total tiga korban tewas telah berhasil dievakuasi. Ketiga korban tersebut adalah Enjel (WNI) serta dua warga negara Singapura, yaitu Heng Wen Qiang Timothy (30 tahun) dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid (27 tahun). Selain korban jiwa, tim SAR juga berhasil mengevakuasi 17 pendaki lain yang dinyatakan selamat dari insiden tersebut. Setelah seluruh upaya pencarian dan evakuasi selesai, operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup.

Menyikapi kejadian tragis ini, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara telah mengambil langkah tegas dengan menutup total aktivitas pendakian di Gunung Dukono sejak tanggal 17 April 2026. Kebijakan ini diberlakukan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Pemerintah berkomitmen untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas di sekitar gunung berapi tersebut, serta mengevaluasi kembali protokol keamanan bagi para pendaki. Penutupan ini diharapkan dapat memberikan waktu bagi evaluasi menyeluruh terhadap risiko dan kesiapan pengelolaan kawasan gunung berapi yang memiliki potensi bahaya tinggi.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan kekuatan alam yang dahsyat dan tak terduga, terutama di wilayah dengan aktivitas vulkanik tinggi seperti Gunung Dukono. Keindahan alam yang ditawarkan gunung ini, yang seringkali menarik minat para pendaki dan petualang, ternyata menyimpan potensi bahaya yang tidak bisa diabaikan. Keinginan untuk menaklukkan puncak gunung atau menikmati pemandangan eksotis dapat berujung pada risiko fatal jika tidak diiringi dengan persiapan matang, pemahaman mendalam mengenai kondisi alam, serta kepatuhan terhadap peringatan dan larangan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.

Keberadaan Gunung Dukono sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia memang selalu menghadirkan tantangan tersendiri bagi para penggiat alam bebas. Erupsi yang sering terjadi, disertai dengan keluarnya abu vulkanik dan material pijar, menciptakan lingkungan yang sangat dinamis dan berbahaya. Para pendaki harus selalu menyadari bahwa aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu tanpa peringatan yang jelas, sehingga sangat penting untuk selalu mengikuti informasi terkini dari sumber yang terpercaya dan mematuhi arahan dari petugas penyelamat.

Insiden ini juga menyoroti pentingnya koordinasi dan kesigapan tim SAR dalam menghadapi situasi darurat. Keberhasilan mengevakuasi 17 pendaki yang selamat menunjukkan profesionalisme dan dedikasi para personel yang bertugas. Namun, tragedi ini juga menjadi catatan penting untuk terus meningkatkan kapasitas dan sumber daya dalam penanganan bencana, terutama di daerah-daerah rawan bencana alam seperti di sekitar gunung berapi.

Penutupan aktivitas pendakian di Gunung Dukono diharapkan dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap manajemen risiko bencana di wilayah tersebut. Hal ini mencakup kajian ulang terhadap peta potensi bencana, sistem peringatan dini, serta regulasi yang mengatur aktivitas pariwisata dan pendakian. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para ahli vulkanologi menjadi krusial untuk memastikan keselamatan dan kelestarian alam tetap terjaga.

Meskipun operasi SAR telah berakhir, dampak dari peristiwa ini akan terus terasa. Bagi keluarga korban, kehilangan orang-orang terkasih akibat bencana alam tentu merupakan pukulan berat. Bagi pemerintah dan masyarakat, ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan, kesiapan, dan pengelolaan risiko yang lebih baik dalam menghadapi kekuatan alam yang luar biasa. Keindahan Gunung Dukono harus tetap dapat dinikmati, namun dengan cara yang aman dan bertanggung jawab, agar tidak ada lagi nyawa yang harus menjadi korban dari pesonanya yang mematikan. Keputusan penutupan total aktivitas pendakian merupakan langkah bijak untuk memberikan ruang bagi refleksi dan perbaikan sistem pengelolaan keselamatan di area tersebut, demi mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang.

Also Read

Tags