Gerakan Pilah Sampah Nasional: Jakarta Jadi Pionir, Menteri LH Serukan Adopsi Daerah

Inka Kristi

Jakarta—Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyerukan keselarasan program pengelolaan sampah di seluruh penjuru negeri, khususnya gerakan memilah sampah dari sumbernya. Ajakan ini dilontarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, saat acara yang menandai peringatan usia ke-499 Kota Jakarta yang mengusung tema ‘Menuju Lima Abad, Jaga Jakarta Bersih!’. Momen tersebut dilangsungkan di area pedestrian Plaza Festival, Jalan H.R. Rasuna Said.

Inisiatif yang digagas oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, yaitu Gerakan Pilah Sampah, dirancang sebagai strategi krusial untuk menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Fokus utama program ini adalah pemisahan sampah berdasarkan kategorinya: organik, anorganik, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), serta residu. Keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, mulai dari kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) hingga para pengurus Rukun Warga (RW), yang diharapkan turut menyediakan sarana tempat sampah terpilah di lingkungan masing-masing.

Menteri Jumhur Hidayat menyatakan bahwa inisiatif Jakarta ini menjadi penanda babak baru dalam upaya menjaga kebersihan kota dan meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Ia menekankan pentingnya peran Jakarta sebagai teladan bagi daerah lain di Indonesia. "Setelah dilantik oleh presiden, kami sedang mempersiapkan peta jalan pengelolaan sampah agar dalam dua tahun persoalan ini selesai di seluruh Indonesia," ujar Jumhur Hidayat dalam pidatonya. Ia menambahkan bahwa Jakarta telah menunjukkan langkah maju dalam gerakan pilah sampah, menjadikannya contoh yang dapat diadopsi dan disinkronkan oleh provinsi lain.

Data yang dipaparkan oleh Menteri Jumhur Hidayat menunjukkan skala permasalahan sampah di Indonesia. Setiap hari, diperkirakan sekitar 141 ribu ton sampah dihasilkan di seluruh Indonesia, dengan Jakarta menyumbang sekitar 8 ribu ton di antaranya. Lebih mengkhawatirkan lagi, 75% dari total sampah di Indonesia masih belum dikelola secara optimal. Presiden sendiri telah merencanakan program penanganan sampah yang ambisius untuk diimplementasikan dalam rentang waktu dua hingga tiga tahun mendatang. "Tentunya, kita sebagai aparaturnya, insyaallah, harus lebih serius lagi untuk memastikan bahwa cita-cita menjadikan sampah bukan hanya sebagai masalah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi, bisa menjadi kenyataan dalam dua hingga tiga tahun mendatang," tutur Menteri Jumhur Hidayat, menekankan potensi ekonomi dari pengelolaan sampah.

Kementerian Lingkungan Hidup, menurut Menteri Jumhur Hidayat, tidak hanya akan bertindak sebagai regulator yang memberikan sanksi atau teguran kepada daerah yang belum optimal dalam pengelolaan sampahnya. Lebih dari itu, KLH berkomitmen untuk menawarkan solusi konkret dan berbagai opsi kebijakan yang dapat diterapkan. "Maka, ke depan, Kementerian Lingkungan Hidup akan memberi teguran sekaligus mendiskusikan, bahkan menyodorkan opsi-opsi kebijakan yang mungkin dilakukan bagi setiap provinsi, khususnya juga di Jakarta ini. Mari sama-sama kita berpikir," jelasnya, menggarisbawahi pendekatan kolaboratif.

Menteri Jumhur Hidayat secara eksplisit mengajak seluruh pemerintah daerah di Indonesia untuk mengadopsi dan mengimplementasikan gerakan pilah sampah. Ia menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas pendukung yang memadai. "Karena itu, para bupati, gubernur, camat, hingga lurah harus memastikan gerakan pilah sampah bertemu dengan kebijakan penyediaan fasilitas yang memadai. Dengan begitu, pemilahan sampah dapat berjalan secara sempurna," tegasnya, menekankan pentingnya sinergi antara gerakan masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, dalam kesempatan yang sama, mengakui bahwa tantangan pengelolaan sampah di Jakarta tidak dapat diatasi secara mandiri. Ia menyambut baik arahan dari Menteri Lingkungan Hidup dan berharap gerakan pilah sampah ini dapat menjadi titik awal yang signifikan dalam menyelesaikan problem sampah yang telah lama dihadapi ibukota. "Saya meyakini, melalui arahan dan kepemimpinan Bapak Menteri Lingkungan Hidup, mudah-mudahan persoalan pilah sampah ini, bersama Pak Menko Pangan, dapat kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan serius sehingga menjadi gerakan baru bagi Jakarta dalam memilah sampah. Harapan saya, mudah-mudahan persoalan sampah di Jakarta yang dari waktu ke waktu tidak pernah terselesaikan, akhirnya dapat terselesaikan," ungkap Gubernur Pramono Anung Wibowo.

Acara tersebut juga diwarnai dengan pembacaan Deklarasi Jaga Jakarta Bersih Pilah Sampah oleh aktivis lingkungan hidup, Jerhemy Owen. Deklarasi ini berisi komitmen kuat untuk mewujudkan pemilahan sampah 100% di berbagai lini, mulai dari tingkat rumah tangga, fasilitas umum, kawasan komersial, hingga kawasan industri di Jakarta. Selain itu, deklarasi tersebut juga menggarisbawahi perlunya penguatan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, upaya signifikan dalam mengurangi jumlah sampah yang menuju tempat pemrosesan akhir (TPA), serta peningkatan intensitas edukasi publik dan kolaborasi antarberbagai pihak demi terwujudnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Also Read

Tags