Jalan Pintas Kepemilikan Rumah Bagi Pekerja Informal dan Berpenghasilan Pas-pasan

Razka Raffasya

Semarang menjadi saksi peluncuran sebuah inisiatif terobosan dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Bertempat di Wisma Perdamaian, acara ini secara resmi memperkenalkan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN Mikro, sebuah program yang dirancang khusus untuk menjangkau segmen masyarakat yang selama ini mungkin kesulitan mengakses pembiayaan perumahan. Target utamanya adalah para individu dengan rentang penghasilan bulanan antara Rp 1,8 juta hingga Rp 2,8 juta, sebuah kelompok yang seringkali terlewatkan oleh skema pembiayaan konvensional maupun subsidi pemerintah.

Acara peluncuran ini dihadiri oleh sosok penting di kementerian terkait, yaitu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono. Kehadirannya menegaskan dukungan pemerintah terhadap upaya swasta dalam mengatasi kesenjangan kepemilikan rumah. BTN sendiri tidak akan bekerja sendirian dalam merealisasikan program ambisius ini. Mereka akan berkolaborasi erat dengan Perum Perumnas, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang perumahan, serta menggandeng berbagai pengembang properti di seluruh penjuru negeri. Sinergi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dan efektivitas program KPR BTN Mikro.

Direktur Utama Bank BTN, Maryono, dalam keterangannya menjelaskan bahwa segmen masyarakat yang menjadi sasaran program ini adalah mereka yang paling membutuhkan uluran tangan dalam hal pembiayaan rumah. Kelompok ini seringkali berada di posisi yang dilematis; penghasilan mereka belum mencukupi untuk membeli rumah secara tunai atau melalui skema komersial, namun di sisi lain, mereka juga tidak memenuhi kriteria untuk mendapatkan fasilitas KPR bersubsidi dari pemerintah, baik itu melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga (SSB), maupun Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM). "Melalui KPR Mikro ini, kami membuka lebih lebar pintu akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat yang lebih luas," ujar Maryono pada Jumat, 24 Februari 2017.

Keunggulan KPR BTN Mikro tidak hanya terletak pada sasarannya yang spesifik, tetapi juga pada penawaran produknya yang sangat bersahabat. Bank BTN menawarkan suku bunga yang kompetitif, yaitu sebesar 7,99% per tahun dengan skema bunga tetap (fixed). Selain itu, BTN juga memberikan fleksibilitas dalam pembayaran angsuran, memungkinkan debitur untuk memilih opsi pembayaran mingguan atau bahkan harian. Fleksibilitas ini sangat krusial bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang pendapatannya mungkin tidak selalu stabil setiap bulannya.

Untuk pembelian rumah pertama, BTN memberlakukan uang muka (DP) yang sangat ringan, hanya sebesar 1% dari nilai rumah. Namun, untuk keperluan renovasi atau pembangunan rumah, uang muka yang disyaratkan adalah minimal 10%. Plafon atau nilai maksimal pinjaman yang dapat diajukan melalui KPR Mikro ini adalah sebesar Rp 75 juta. Skema uang muka yang ringan ini dirancang untuk memudahkan masyarakat agar dapat segera memiliki rumah impian mereka tanpa terbebani biaya awal yang besar.

Tahap awal implementasi KPR BTN Mikro akan difokuskan pada kelompok pedagang yang terhimpun dalam Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso. Pemilihan asosiasi ini bukan tanpa alasan; mereka merupakan representasi dari sektor informal yang memiliki potensi besar namun seringkali sulit dijangkau oleh lembaga keuangan formal. Ke depannya, BTN berencana untuk memperluas cakupan sasaran profesi lainnya, seperti nelayan, petani, perajin, dan berbagai pekerja di sektor informal lainnya. Target penyaluran dana untuk KPR BTN Mikro pada tahap awal ditetapkan sebesar Rp 150 miliar, sebuah angka yang diharapkan dapat membantu ribuan keluarga untuk memiliki rumah.

Syarat utama bagi calon debitur KPR BTN Mikro adalah mereka harus tergabung dalam sebuah komunitas pedagang atau koperasi, serta menjadi binaan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) dengan rekam jejak penilaian yang baik. Maryono menekankan pentingnya aspek keanggotaan dalam komunitas atau koperasi yang terorganisir. Selain itu, syarat lainnya meliputi usaha yang telah berjalan minimal selama satu tahun dan mendapatkan rekomendasi dari komunitas atau koperasi tersebut. Calon debitur juga diwajibkan untuk memiliki tabungan di BTN dengan rata-rata saldo yang tersimpan minimal selama tiga bulan. BTN menyediakan produk tabungan yang sesuai dengan kemampuan debitur, salah satunya adalah Tabungan Cermat yang bebas biaya administrasi bulanan dengan setoran awal minimal Rp 10 ribu.

Dengan adanya KPR BTN Mikro, Bank BTN berharap dapat terjadi peningkatan jumlah nasabah yang membuka Tabungan Cermat. Hal ini sejalan dengan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mendorong program inklusi keuangan yang lebih luas di masyarakat. "Program ini juga bertujuan agar jumlah pemegang Tabungan Cermat bisa meningkat, sehingga program inklusi keuangan dapat semakin berkembang sesuai arahan OJK," tegas Maryono.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, menyambut baik inisiatif KPR BTN Mikro ini. Ia menyatakan bahwa program seperti ini sangat penting untuk membantu pemerintah dalam mencapai target program sejuta rumah, meskipun KPR BTN Mikro merupakan inisiatif mandiri dari BTN dan bukan bagian langsung dari program pemerintah. Basuki menjelaskan bahwa dari total angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 120 juta jiwa, sekitar 40% adalah pekerja tetap, sementara 60% sisanya adalah pekerja tidak tetap atau dari sektor informal. "Oleh karena itu, dengan adanya program ini, para pedagang mie dan bakso, serta profesi informal lainnya, dapat memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pencapaian target sejuta rumah kita," ujar Basuki. Dengan demikian, KPR BTN Mikro menjadi jembatan penting bagi kelompok pekerja informal untuk meraih mimpi memiliki hunian yang layak.

Also Read

Tags