Persidangan yang melibatkan Elon Musk dan OpenAI terus bergulir, kali ini menghadirkan kesaksian dari CEO Microsoft, Satya Nadella. Setelah menjalani interogasi intens selama beberapa jam, Nadella memberikan keterangan mengenai jalinan kemitraan awal antara Microsoft dan OpenAI, serta perannya di tengah gejolak pemecatan Sam Altman sebagai orang nomor satu di OpenAI.
Microsoft telah menjadi pilar pendukung utama bagi OpenAI sejak tahun 2019, jauh sebelum popularitas kecerdasan buatan melonjak drastis pasca peluncuran ChatGPT. Komitmen finansial Microsoft terhadap OpenAI pun tidak main-main, mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS hingga saat ini. Nadella menyatakan kebanggaannya atas keputusan Microsoft untuk merintis investasi pada OpenAI di masa-masa awal ketika lembaga riset AI yang masih terbilang baru itu belum banyak dilirik pihak lain.
Gugatan yang dilayangkan oleh Elon Musk kepada OpenAI, Sam Altman selaku CEO, dan Greg Brockman selaku presiden, berakar pada tuduhan pelanggaran janji terkait pemeliharaan struktur nirlaba perusahaan. Dalam gugatan tersebut, Microsoft turut terseret karena Musk mendakwa raksasa perangkat lunak itu sebagai pihak yang turut membantu dan mendukung OpenAI dalam melakukan pelanggaran tersebut. Musk, yang telah memberikan kesaksiannya di persidangan sebelumnya, berpendapat bahwa investasi sebesar 10 miliar dolar AS yang digelontorkan Microsoft pada tahun 2023 menjadi titik krusial yang mengindikasikan pergeseran OpenAI dari misi awalnya sebagai organisasi nirlaba.
Menanggapi hal tersebut, Nadella menegaskan bahwa investasi Microsoft di OpenAI bukanlah sebuah bentuk donasi semata. Ia menekankan adanya unsur komersial yang jelas dalam kerangka kerja sama kedua entitas. Lebih lanjut, Nadella menjelaskan bahwa Microsoft memberikan keringanan biaya yang signifikan kepada OpenAI dalam penggunaan sumber daya komputasi, dengan harapan akan memperoleh imbalan yang menguntungkan dari kemitraan strategis ini.
Selain isu investasi, Nadella juga dimintai keterangan mengenai responsnya atas insiden pemecatan Sam Altman dari kursi CEO OpenAI pada November 2023. Dewan direksi saat itu beralasan bahwa Altman dinilai tidak konsisten dalam menyampaikan informasi. Peristiwa ini memicu negosiasi alot selama beberapa hari yang akhirnya mengembalikan Altman ke posisinya. Nadella mengaku cukup terkejut dengan keputusan mendadak dewan direksi tersebut. Prioritas utamanya saat itu adalah memastikan kelancaran layanan bagi konsumen Microsoft. Ia menduga, di balik insiden tersebut, terdapat unsur kecemburuan dan miskomunikasi yang kuat.
"Setiap kali saya berupaya mengorek alasan spesifik di balik pemecatan Sam, dewan direksi tidak pernah memberikan jawaban yang gamblang," ungkap Nadella, seperti yang dilaporkan oleh Financial Times pada Selasa, 12 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa, menurut pandangannya, seluruh rangkaian kejadian tersebut menunjukkan tingkat profesionalisme yang sangat rendah.
Latar belakang perseteruan ini semakin kompleks ketika melihat sejarah hubungan Musk dengan OpenAI. Sebagai salah satu pendiri awal, Musk memiliki pandangan bahwa OpenAI seharusnya tetap berpegang teguh pada prinsip nirlaba dan tidak terlalu didominasi oleh kepentingan komersial, terutama yang berkaitan dengan kemitraan besar dengan entitas korporat seperti Microsoft. Ia khawatir bahwa tujuan awal untuk mengembangkan kecerdasan buatan demi kemaslahatan umat manusia akan tergerus oleh dorongan profitabilitas.
Di sisi lain, Microsoft melihat investasinya sebagai langkah strategis untuk mengamankan posisinya di garis depan revolusi kecerdasan buatan. Kemitraan ini memungkinkan Microsoft untuk mengintegrasikan teknologi canggih OpenAI ke dalam berbagai produk dan layanannya, mulai dari mesin pencari Bing hingga aplikasi produktivitas Office. Dukungan finansial dan infrastruktur komputasi yang diberikan Microsoft dinilai krusial bagi OpenAI untuk dapat terus berinovasi dan bersaing di kancah global.
Kesaksian Nadella di pengadilan ini menjadi salah satu elemen penting dalam pembuktian argumen kedua belah pihak. Pengadilan akan menganalisis keterangan yang diberikan oleh Nadella, Musk, dan para saksi lainnya untuk menentukan apakah OpenAI telah menyimpang dari misi nirlabanya dan apakah Microsoft berperan serta dalam penyimpangan tersebut. Hasil dari persidangan ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap masa depan OpenAI, Microsoft, dan lanskap pengembangan kecerdasan buatan secara keseluruhan.
Dalam pernyataannya, Nadella juga menyinggung mengenai bagaimana Microsoft mengelola hubungannya dengan berbagai pemain di industri AI. Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan OpenAI tidak menghalangi Microsoft untuk menjalin kerja sama dengan pihak lain, termasuk para peneliti dan pengembang AI independen. Hal ini menunjukkan bahwa strategi Microsoft adalah membangun ekosistem AI yang luas dan inklusif, di mana berbagai inisiatif dapat berkembang dan saling melengkapi.
Persidangan ini juga menyoroti tantangan etis dan struktural yang dihadapi oleh organisasi yang bergerak di bidang teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan. Perdebatan antara misi nirlaba dan kebutuhan pendanaan yang besar untuk riset dan pengembangan menjadi dilema yang kerap dihadapi oleh banyak perusahaan teknologi. Bagaimana menyeimbangkan antara kemajuan ilmiah, keuntungan finansial, dan tanggung jawab sosial adalah pertanyaan krusial yang terus bergulir seiring dengan perkembangan pesat teknologi AI. Kesaksian Satya Nadella menjadi salah satu potongan puzzle penting dalam upaya memahami dinamika kompleks di balik salah satu perseteruan hukum paling disorot di dunia teknologi saat ini.






