Dampak Laga Kontroversial West Ham, Kinerja Wasit Tottenham Dipertanyakan

Arsya Alfarizqi

Tottenham Hotspur harus puas bermain imbang 1-1 melawan Leeds United dalam lanjutan Liga Inggris yang digelar di Tottenham Hotspur Stadium. Gol pembuka dari Mathys Tel untuk tuan rumah disamakan oleh Dominic Calvert-Lewin melalui eksekusi penalti bagi tim tamu. Hasil ini menempatkan Tottenham dalam posisi genting di klasemen, bertengger di peringkat ke-17 dengan 38 poin. Mereka hanya unggul dua angka dari West Ham United yang berada di posisi ke-18, menciptakan persaingan sengit untuk menghindari jurang degradasi bersama Burnley dan Wolves yang dipastikan turun kasta.

Manajer Tottenham, Roberto De Zerbi, mengungkapkan kekecewaannya atas kegagalan timnya meraih poin penuh. Namun, ekspresi kekecewaan sang pelatih tidak sepenuhnya tersalurkan di pinggir lapangan. De Zerbi merasa kerap kali diingatkan oleh wasit untuk tetap berada dalam area teknis, sebuah tindakan yang ia nilai berlebihan. Menurut pandangannya, sikap wasit yang terlalu kaku dan ketat ini dipicu oleh tekanan akibat kontroversi yang terjadi pada pertandingan sebelumnya antara West Ham United melawan Arsenal, yang berakhir dengan skor 0-1.

Kontroversi yang dimaksud terjadi ketika gol balasan The Hammers yang dicetak oleh Callum Wilson dari situasi sepak pojok dianulir oleh wasit dan Video Assistant Referee (VAR). Keputusan ini, menurut analisis De Zerbi, didasarkan pada temuan adanya pelanggaran terhadap kiper Arsenal, David Raya. Namun, De Zerbi berpendapat bahwa wasit seharusnya tidak terpengaruh oleh polemik tersebut dan tetap menjalankan tugasnya dengan obyektivitas, tanpa harus merasakan tekanan yang berlebihan.

"Sejak awal pertandingan hingga akhir, wasit terus mengingatkan saya untuk tidak keluar dari area teknis dan memberikan peringatan, yang menurut saya agak berlebihan. Saya merasa mereka bertindak di bawah tekanan hari ini," ujar De Zerbi, seperti dikutip dari Standard. Ia menduga bahwa suasana pertandingan yang ia rasakan dipengaruhi oleh ketegangan yang tercipta dari laga West Ham kontra Arsenal, terutama terkait peran VAR. De Zerbi menekankan bahwa dirinya tidak memahami sepenuhnya perdebatan mengenai keputusan VAR pada pertandingan tersebut, karena ia yakin bahwa pelanggaran terhadap David Raya sangat jelas terlihat, bukan sekadar kemungkinan.

De Zerbi kemudian melanjutkan, "Mungkin mereka merasakan tekanan dari pertandingan West Ham-Arsenal kemarin dan penggunaan VAR. Yang pasti, kami merasakan tekanan hari ini karena alur bola, situasi di lapangan, dan kami tidak bermain dengan kesabaran. Terlalu terburu-buru dan tergesa-gesa, tetapi wasit juga tidak tenang. Saya tidak tahu, saya tidak mengerti polemik tentang VAR kemarin karena itu adalah pelanggaran, 200 persen, bukan 100 persen, jika Anda ingin berbicara tentang sepak bola." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa De Zerbi melihat adanya korelasi langsung antara kontroversi yang melibatkan wasit dan VAR dalam laga West Ham versus Arsenal dengan cara pengadilan pertandingan yang ia alami. Ia merasa bahwa wasit yang memimpin laga Tottenham menghadapi Leeds United seolah-olah menjalankan tugasnya dengan rasa khawatir dan kecemasan yang berlebihan, sehingga berdampak pada kepemimpinan mereka di lapangan.

Lebih jauh, De Zerbi mengaitkan performa timnya yang kurang optimal dengan kondisi mental para pemain yang juga terpengaruh oleh atmosfer pertandingan. Ia menggambarkan permainan Tottenham yang cenderung tergesa-gesa dan kurang sabar, yang berbanding terbalik dengan yang seharusnya mereka tunjukkan. Kurangnya ketenangan dalam bermain, menurut De Zerbi, tidak hanya terjadi pada anak asuhnya, tetapi juga tercermin pada sikap wasit yang tampak tidak tenang.

Manajer asal Italia ini secara tegas menyatakan bahwa keputusan wasit dan VAR yang menganulir gol West Ham adalah sebuah kesalahan yang sangat jelas. Ia meyakini bahwa pelanggaran yang terjadi adalah 200% nyata, bukan sekadar dugaan atau interpretasi yang bisa diperdebatkan. "Jika Anda ingin membahas sepak bola secara objektif, maka keputusan itu sangatlah keliru," tegasnya. De Zerbi berargumen bahwa kontroversi semacam itu seharusnya tidak menjadi patokan bagi wasit untuk memimpin pertandingan selanjutnya, karena setiap laga memiliki dinamikanya sendiri.

Situasi ini menyoroti betapa sensitifnya dunia sepak bola terhadap setiap keputusan yang diambil oleh ofisial pertandingan. Satu keputusan yang kontroversial dapat menciptakan riak yang panjang, memengaruhi kinerja tim lain, dan bahkan menimbulkan keraguan terhadap integritas pengambilan keputusan di masa depan. Bagi Tottenham, hasil imbang ini merupakan pukulan telak dalam upaya mereka untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Perjuangan mereka dipastikan akan semakin berat di sisa musim, dengan setiap poin menjadi sangat berharga. Pertandingan melawan Leeds United, yang seharusnya menjadi kesempatan untuk menjauh dari zona degradasi, justru berakhir dengan kekecewaan dan pertanyaan mengenai pengaruh eksternal terhadap jalannya pertandingan. Para penggemar dan pengamat sepak bola tentu akan menantikan bagaimana Tottenham akan bangkit dari situasi sulit ini, sambil berharap bahwa wasit di pertandingan-pertandingan mendatang dapat memimpin dengan lebih tenang dan obyektif, terlepas dari drama yang terjadi di laga-laga sebelumnya.

Also Read

Tags