Kongres tahunan Federasi Futsal Indonesia (FFI) yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa, 12 Mei 2026, menandai sebuah babak baru dalam evolusi organisasi olahraga tepok bola di tanah air. Salah satu keputusan monumental yang diambil dalam forum tersebut adalah perubahan nama resmi organisasi dari Federasi Futsal Indonesia (FFI) menjadi Asosiasi Futsal Indonesia (AFI). Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama semata, melainkan sebuah langkah strategis yang bertujuan untuk menyelaraskan struktur dan operasional futsal dengan Statuta Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang telah direvisi.
Langkah ini dilakukan sebagai konsekuensi logis dari penyesuaian terhadap Statuta PSSI terbaru yang disahkan pada tahun sebelumnya, 2025. Sebagai sebuah asosiasi yang berada di bawah payung PSSI, FFI kini bertransformasi menjadi AFI untuk memastikan keselarasan dan kepatuhan terhadap regulasi induk organisasi sepak bola nasional. Selain perubahan nama, kongres tersebut juga mengagendakan restrukturisasi internal organisasi. Beberapa penyesuaian dilakukan, termasuk penambahan posisi Wakil Ketua Umum dan pengangkatan figur baru untuk menduduki jabatan Sekretaris Jenderal (Sekjen).
Michael Sianipar, Ketua Umum AFI yang baru, menjelaskan bahwa keputusan-keputusan strategis ini didasari oleh kebutuhan untuk merevisi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) futsal. "Kami memutuskan beberapa hal strategis," ujar Michael. "Yang pertama, adanya penyesuaian revisi AD/ART futsal. Karena apa? Karena kami mengacu kepada Statuta PSSI yang baru, yang baru disahkan tahun lalu 2025," terangnya. Ia menambahkan bahwa proses penyesuaian ini membutuhkan waktu dan telah melalui pembahasan mendalam, termasuk pengajuan surat resmi kepada PSSI dan penerimaan persetujuan. Forum kongres pun secara resmi menyetujui AD/ART baru yang diharapkan dapat menyelaraskan futsal dengan PSSI. "Jadi saya bisa bilang ini penyelarasan organisasi antara futsal dengan PSSI," tegasnya.
Michael Sianipar menekankan bahwa semangat perubahan ini didukung penuh oleh seluruh anggota futsal, baik dari tingkat provinsi maupun klub-klub. Kesepakatan bersama menyatakan bahwa futsal merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari sepak bola. Kemajuan signifikan yang dicapai oleh futsal Indonesia dalam dua tahun terakhir ini diakui Michael tidak lepas dari dukungan kuat yang diterima, baik dari PSSI, pemerintah, maupun kerja keras seluruh pemangku kepentingan.
Lebih lanjut, AFI meyakini bahwa pencapaian prestasi yang lebih gemilang di masa depan dapat terwujud melalui sinergi yang kuat dan berkelanjutan. Penguatan kolaborasi antara berbagai pihak menjadi fokus utama dalam pembahasan kongres tersebut. "AFI meyakini bahwa prestasi dibangun, bersinergi bersama, dan bahkan bisa lebih lari lagi ke depan kalau sinergi diperkuat," ujar Michael.
Dalam kesempatan yang sama, Michael Sianipar juga memperkenalkan jajaran kepengurusan baru yang telah melalui proses penunjukan. Ia didampingi oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) baru untuk futsal, Budi Setiawan, serta penambahan figur di posisi Wakil Ketua Umum. Selain Atta, kini terdapat dua Wakil Ketua Umum, salah satunya adalah Novel Leonardo. "Dan dari para Exco di sini juga saya didampingi oleh, ada Sekjen yang baru untuk kita di futsal, yaitu Mas Budi Setiawan, dan juga untuk Waketum, selain Mas Atta juga kita bertambah jadi ada dua Waketum. Di samping kiri saya ada Mas Novel (Leonardo)," jelas Michael.
Meskipun proses penyesuaian nama dan AD/ART membutuhkan waktu, Michael Sianipar optimis terhadap arah kebijakan yang telah ditetapkan. Ia menyatakan bahwa sikap dan langkah organisasi telah jelas, yaitu memperkuat sinergi antara futsal dan sepak bola demi membangun ekosistem yang lebih kokoh. Harapannya, keberhasilan penyelarasan yang telah dicapai di tingkat pusat ini dapat ditindaklanjuti dan diterapkan secara efektif di seluruh daerah di Indonesia. Perubahan nama dan struktur ini merupakan fondasi penting untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing futsal Indonesia di kancah nasional maupun internasional, seiring dengan semangat kolaborasi yang semakin dipererat dengan induk organisasinya, PSSI. Transformasi ini diharapkan tidak hanya membawa dampak positif pada tata kelola organisasi, tetapi juga pada peningkatan prestasi olahraga futsal secara keseluruhan, menciptakan momentum baru untuk pertumbuhan dan perkembangan yang lebih pesat di tahun-tahun mendatang.






