Kisah pahit yang pernah dialami Tottenham Hotspur di Liga Primer Inggris musim 2015/2016 kini membayangi mereka di musim yang berbeda. Kala itu, ambisi mereka untuk meraih gelar juara dipecundangi oleh rival sekota, Chelsea, dalam sebuah laga dramatis di Stamford Bridge. Kini, delapan tahun berselang, takdir seolah berputar. The Blues, yang pernah menjadi batu sandungan bagi Spurs dalam perburuan trofi, berpotensi menjadi malaikat pencabut nyawa bagi Tottenham di ambang jurang degradasi.
Pertarungan sengit antara Chelsea dan Tottenham pada 2 Mei 2016 tercatat dalam sejarah persepakbolaan Inggris. Pertandingan tersebut bukan sekadar bentrokan dua tim besar, melainkan sebuah duel penentu nasib Leicester City. Tottenham, yang saat itu tengah bersemangat mengincar gelar perdana Liga Primer, harus menahan laju mereka setelah ditahan imbang 2-2 oleh Chelsea. Hasil imbang tersebut, meskipun mengecewakan bagi kubu Spurs, justru disambut gegap gempita oleh para pendukung Leicester City. Tim asuhan Claudio Ranieri, yang notabene mantan pelatih Chelsea, akhirnya memastikan diri sebagai kampiun Liga Inggris musim itu.
Pada musim 2015/2016, Tottenham Hotspur tertahan di posisi kedua klasemen dengan 70 poin. Dengan dua pertandingan tersisa, poin maksimal yang bisa mereka raih adalah 76 poin. Namun, Leicester City telah mengumpulkan 77 poin, sehingga kemenangan dalam dua laga terakhir pun tidak akan mampu menyamai atau melampaui perolehan poin The Foxes. Kegagalan itu menjadi pukulan telak bagi Tottenham, dan Chelsea, dengan hasil imbangnya, memainkan peran kunci dalam epik kejutan Leicester.
Kini, di musim yang berbeda, Tottenham Hotspur kembali dihadapkan pada situasi genting. Alih-alih berjuang untuk trofi, mereka justru bergelut menyelamatkan diri dari jurang degradasi. Saat ini, Tottenham menduduki peringkat ke-17 klasemen sementara Liga Primer dengan raihan 38 poin. Posisi ini hanya satu angka di atas zona degradasi, di mana West Ham United siap mengintai dengan 37 poin.
Dua pertandingan terakhir Tottenham di musim ini akan menjadi penentu nasib mereka. Pada tanggal 20 Mei, mereka dijadwalkan akan bertandang ke Stamford Bridge untuk menghadapi Chelsea. Tiga hari kemudian, pada 24 Mei, mereka akan melakoni laga penutup musim melawan Everton. Pertarungan melawan Chelsea ini menjadi sangat krusial. Kemenangan atas The Blues tidak hanya akan memberikan tiga poin berharga, tetapi juga bisa menjadi modal psikologis yang sangat penting dalam perburuan zona aman.
Tensi persaingan antara Tottenham Hotspur dan West Ham United untuk menghindari degradasi akan semakin memanas. Dalam perebutan poin yang ketat ini, Chelsea berpotensi memainkan peran yang sangat menentukan. Jika Chelsea mampu mengalahkan Tottenham di kandang mereka sendiri, maka hal tersebut dapat secara langsung mengirimkan skuad asuhan Ange Postecoglou itu ke Divisi Championship.
Bahkan, legenda Liverpool yang kini menjadi pundit sepak bola, Jamie Carragher, telah menyuarakan pandangannya mengenai kemungkinan ini. Carragher menilai bahwa skuad Chelsea bisa saja termotivasi untuk memberikan kekalahan kepada Tottenham, terutama karena pertandingan tersebut akan digelar di Stamford Bridge. Ia membayangkan atmosfer stadion akan sangat membara, dengan para pemain Chelsea memiliki keinginan kuat untuk menjatuhkan rival mereka dan menempatkan Tottenham dalam posisi yang semakin sulit.
Carragher menekankan bahwa nasib Tottenham tidak hanya bergantung pada performa mereka sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh hasil pertandingan tim lain, termasuk West Ham. Oleh karena itu, ia menyarankan agar Tottenham menjalani dua laga sisa ini layaknya sebuah pertandingan final, di mana setiap elemen harus dikeluarkan untuk meraih hasil terbaik dan memastikan diri bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Sejarah telah mencatat bahwa Chelsea pernah mengagalkan ambisi besar Tottenham. Kini, takdir kembali mempertemukan kedua tim dalam skenario yang berbeda namun sama-sama krusial. Pertanyaannya adalah, apakah Chelsea akan kembali memainkan peran sebagai penentu nasib Tottenham, kali ini dengan konsekuensi yang jauh lebih dramatis, yakni mengirim mereka ke kompetisi divisi kedua? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau, di mana rivalitas abadi antara kedua klub akan kembali diuji. Tekanan yang dihadapi Tottenham Hotspur sungguh luar biasa, mereka harus mampu bangkit dan menunjukkan mental juara, atau siap-siap menghadapi kenyataan pahit yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Pertarungan di Stamford Bridge diprediksi akan menjadi drama penutup musim yang menegangkan, tidak hanya bagi kedua tim, tetapi juga bagi para penggemar sepak bola yang menyaksikan.






