Jakarta – Wacana pengelolaan sampah di ibu kota kini memasuki babak baru yang menjanjikan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan pandangan optimisnya mengenai potensi sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah pelik, untuk diubah menjadi sumber energi listrik melalui implementasi teknologi insinerator.
Pandangan ini dikemukakan Zulhas, sapaan akrabnya, saat menghadiri acara Pencanangan HUT ke-499 Kota Jakarta yang berbarengan dengan peluncuran gerakan "Jaga Jakarta Bersih: Gerakan Pilah Sampah". Acara yang berlangsung di kawasan pedestrian Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada 10 Mei lalu, menjadi momentum penting untuk menyuarakan visi baru penanganan sampah.
Zulhas mengungkapkan keyakinannya bahwa begitu fasilitas insinerator di Jakarta beroperasi penuh, yang diproyeksikan pada tahun 2027-2028, sampah kota yang selama ini menjadi beban justru berpotensi menjadi komoditas yang sangat diminati. "Sampah yang selama ini menjadi musuh kita akan kita ubah menjadi energi listrik," ujar Zulhas dalam pidatonya pada peringatan hari jadi DKI Jakarta. Ia melanjutkan, bahwa ketika insinerator sudah berfungsi optimal, sampah akan menjadi "rebutan" karena ia akan menjadi bahan bakar utama yang diolah menjadi listrik. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran paradigma dari pengelolaan sampah menjadi penanganan limbah yang bernilai ekonomis.
Lebih lanjut, Zulkifli Hasan memberikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam meluncurkan gerakan pemilahan sampah. Menurutnya, gerakan ini merupakan kunci fundamental dalam menuntaskan persoalan sampah perkotaan yang kompleks. "Saya merasa sangat gembira dan memberikan penghormatan tertinggi atas gerakan Pilah Sampah yang digagas oleh Gubernur Jakarta. Ini adalah akar permasalahan kita, problem utama yang harus kita selesaikan," tegas Zulhas.
Ia menekankan bahwa upaya penanganan sampah harus dimulai dari hulu, yaitu dari sumbernya, terutama dari unit terkecil yaitu rumah tangga. Selain itu, Zulhas juga menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab dari setiap sektor untuk menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri di masa mendatang. "Ke depan, kantor-kantor tidak lagi membuang sampah begitu saja, harus diselesaikan di tempat. Restoran harus mengelola sampahnya sendiri, begitu pula toko dan pusat perbelanjaan. Namun, bagi masyarakat, inti solusinya adalah melalui pemilahan sampah," jelasnya.
Sebagai informasi tambahan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang tengah gencar mempersiapkan peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta, yang puncaknya akan dirayakan menuju lima abad usia kota ini. Rangkaian acara yang dimulai pada 9-10 Mei 2026 ini juga dimeriahkan oleh kampanye "Jaga Jakarta Bersih: Gerakan Pilah Sampah". Acara tersebut dihadiri oleh berbagai elemen penting, mulai dari jajaran Pemprov DKI Jakarta, perwakilan pemerintah pusat, para duta besar, komunitas, pelaku usaha, hingga masyarakat umum. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi modal penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berkelanjutan.
Dalam upaya mensukseskan gerakan pemilahan sampah, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebelumnya telah memberikan arahan yang jelas. Pemprov DKI Jakarta secara resmi memulai program pemilahan sampah pada tanggal 10 Mei 2026, yang mewajibkan seluruh warga untuk memilah sampah menjadi empat kategori utama: organik, anorganik, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), serta residu.
"Rekan-rekan sekalian, besok tanggal 10 Mei, Jakarta akan secara resmi memulai program pemilahan sampah. Ini akan menjadi gerakan masif karena sesungguhnya hampir 50 persen dari total sampah kita adalah sampah organik," ujar Pramono kepada awak media di Balai Kota pada Kamis (7/5). Implementasi ini menjadi langkah konkret menuju pengelolaan sampah yang lebih efektif dan ramah lingkungan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi dan kesadaran akan pentingnya daur ulang.
Dengan beroperasinya insinerator dan kesuksesan gerakan pilah sampah, diharapkan Jakarta dapat mengubah tantangan sampah menjadi peluang, baik dalam hal pemenuhan energi maupun terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Potensi "rebutan" sampah yang disampaikan Zulhas bukan sekadar metafora, melainkan gambaran masa depan pengelolaan limbah yang inovatif dan berkelanjutan.






