Terputusnya Harapan Listrik Tenaga Surya, Warga Pulau Tunda Bergantung pada Bunker BBM yang Kian Menipis

Inka Kristi

Kehidupan masyarakat Pulau Tunda di Kabupaten Serang, Banten, kini tengah menghadapi tantangan serius terkait pasokan listrik yang tidak menentu. Sumber energi terbarukan yang pernah diharapkan, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mengalami kerusakan parah dan meninggalkan warga pada ketergantungan yang rentan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Situasi ini memaksa mereka untuk bergantung pada pasokan bahan bakar minyak yang ketersediaannya menjadi faktor penentu utama kestabilan aliran listrik.

Kondisi ini diungkapkan oleh salah seorang warga Pulau Tunda, Mamat (43), yang menjelaskan betapa krusialnya pasokan bahan bakar diesel bagi kelangsungan operasional PLTD. Ketergantungan yang tinggi pada sumber daya ini sering kali berujung pada fluktuasi pasokan listrik yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika listrik padam, infrastruktur vital seperti menara telekomunikasi pun ikut lumpuh, berdampak langsung pada akses komunikasi warga terhadap sinyal seluler dan internet. "Ketika listrik mati, menara komunikasi juga ikut padam, membuat warga kesulitan mendapatkan sinyal dan mengakses internet," ujar Mamat, menggambarkan situasi yang dihadapi.

Secara ideal, pasokan listrik di Pulau Tunda seharusnya menyala mulai pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB setiap harinya. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, jadwal penerangan ini kerap mengalami perubahan drastis akibat berbagai kendala, termasuk kerusakan mesin pada PLTD dan menipisnya persediaan bahan bakar diesel. Mamat menambahkan, seringkali listrik yang tadinya menyala hingga larut malam tiba-tiba padam lebih awal, bahkan terkadang hanya menyala sebentar setelah magrib sebelum kembali mati karena adanya gangguan teknis. "Kadang baru jam sebelas malam sudah mati. Pernah juga habis magrib menyala sebentar lalu mati lagi karena ada masalah," jelasnya.

Meskipun dihadapkan pada ketidakpastian pasokan, warga Pulau Tunda tetap menunjukkan komitmennya dengan rutin membayar iuran listrik harian. Besaran iuran yang dibebankan bervariasi, mulai dari Rp 5.500 hingga Rp 15.000 per malam, bergantung pada banyaknya perangkat elektronik yang digunakan di setiap rumah tangga. Mamat menegaskan bahwa warga sangat antusias dalam memenuhi kewajiban iuran listrik mereka, dengan harapan utama agar dana tersebut benar-benar dialokasikan untuk perawatan dan pemeliharaan fasilitas kelistrikan yang ada. "Warga antusias membayar iuran listrik, yang terpenting iurannya digunakan untuk perawatan dan kebutuhan listrik," katanya.

Besar harapan masyarakat Pulau Tunda agar fasilitas tenaga surya yang sebelumnya menjadi tulang punggung pasokan listrik di wilayah mereka dapat segera diperbaiki. Mamat mengungkapkan bahwa komponen utama PLTS, seperti panel surya, sebenarnya masih dalam kondisi baik, namun komponen pendukungnya, yaitu baterai dan sistem instalasi, yang mengalami kerusakan. Ia meyakini bahwa perbaikan pada bagian-bagian tersebut akan mampu mengembalikan fungsi PLTS sebagai sumber listrik yang stabil. "Tenaga suryanya sebenarnya masih bagus, hanya baterai dan instalasinya yang rusak. Jika diperbaiki, listrik bisa menyala lagi," ujarnya optimis.

Oleh karena itu, warga Pulau Tunda sangat berharap agar pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius dan solusi konkret terhadap permasalahan kelistrikan yang melanda pulau mereka. Mamat juga menyoroti satu aspek krusial lainnya yang menjadi penyebab kompleksitas masalah kelistrikan di Pulau Tunda, yaitu minimnya ketersediaan tenaga teknis yang benar-benar ahli dalam pengelolaan fasilitas listrik. Menurutnya, kekurangan sumber daya manusia yang kompeten ini seringkali membuat kerusakan kecil yang seharusnya bisa ditangani dengan cepat justru berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan rumit. "Kami juga memiliki masalah krusial dalam pengelolaannya, yaitu tenaga teknis perawatan yang bukan ahli. Pengurus hanya tahu menyalakan dan mematikan mesin. Jadi, jika ada kerusakan kecil, akhirnya merambat menjadi lebih besar," pungkasnya, menyuarakan keprihatinan mendalam atas situasi yang dihadapi komunitasnya.

Also Read

Tags