Bursa Efek Indonesia Melonjak Saat Tengah Hari, Kinerja Positif Diperkuat Optimisme Investor

Razka Raffasya

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada jeda siang hari ini menampilkan grafik yang terus menanjak, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memantapkan posisinya di angka 5.302. Kenaikan signifikan ini diyakini banyak pihak dipicu oleh geliat aktivitas pembelian yang kuat dari para pelaku pasar domestik, yang menunjukkan kepercayaan diri yang kian tumbuh terhadap prospek pasar modal Tanah Air.

Sesi pembukaan perdagangan pagi tadi, tepatnya pada pukul 09.00 Waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), diawali dengan lonjakan tipis namun signifikan. IHSG tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,180 poin, atau setara dengan 0,10%, melayang ke level 5.299,964. Tidak ketinggalan, indeks yang merefleksikan pergerakan 45 saham berkapitalisasi pasar terbesar dan paling likuid, Indeks LQ 45, juga turut merasakan angin segar. Indeks ini dilaporkan dibuka menguat tipis 0,269 poin, atau 0,03%, mengawali hari di posisi 885,544.

Memasuki akhir sesi perdagangan pertama, tren positif ini semakin mengukuh. IHSG berhasil ditutup dengan catatan kenaikan yang lebih substansial, yakni 7,463 poin, atau 0,14%, bertengger kokoh di angka 5.302,247. Sementara itu, Indeks LQ 45 pun tak mau kalah, mencatatkan penguatan sebesar 0,391 poin, atau 0,04%, mengakhiri sesi pertama di level 885,666. Ini mengindikasikan bahwa sentimen positif merata di sebagian besar komponen pasar saham.

Analisis sektor menunjukkan gambaran yang beragam namun dominan positif. Dari sepuluh sektor yang menjadi tolok ukur pergerakan pasar, lima di antaranya berhasil mencatatkan penguatan. Sektor konstruksi menjadi jawara penguatan, dengan kenaikan impresif mencapai 1,20%. Di belakangnya, sektor perdagangan tidak kalah gemilang, membukukan kenaikan sebesar 0,80%. Sektor-sektor lain yang juga turut berkontribusi pada penguatan IHSG antara lain sektor-sektor yang terkait dengan barang konsumsi primer, energi, dan industri dasar, meskipun porsinya tidak sebesar dua sektor terdepan. Sementara itu, lima sektor lainnya terpantau mengalami pelemahan, namun dampaknya berhasil diredam oleh penguatan sektor-sektor yang lebih dominan.

Pergerakan harga saham secara agregat pun mencerminkan optimisme pasar. Sebanyak 145 saham tercatat mengalami kenaikan harga, sementara hanya 104 saham yang mengalami penurunan. Sebanyak 118 saham lainnya relatif stagnan, tidak menunjukkan perubahan harga yang berarti. Dari sisi aktivitas transaksi, frekuensi saham yang diperdagangkan mencapai 175.301 kali. Nilai total volume perdagangan mencapai angka fantastis, yaitu 6,8 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp 2,8 triliun. Arus dana asing yang keluar dari pasar saham domestik pada sesi pertama ini tercatat sebesar Rp 24,980 miliar. Meskipun ada aliran keluar dana asing, namun hal ini berhasil diimbangi oleh pembelian domestik yang lebih kuat.

Beberapa saham yang menjadi bintang pada sesi ini, atau masuk dalam jajaran top gainers, menunjukkan performa yang sangat memuaskan. PT Multi Prima Sejahtera Tbk (LPIN) menjadi salah satu yang paling bersinar, dengan kenaikan harga mencapai 500 poin atau 9,09%, mengakhiri perdagangan di level Rp 6.000 per saham. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga menunjukkan performa positif, naik 500 poin atau 0,79%, diperdagangkan pada harga Rp 63.500. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) membuktikan kekuatannya dengan lonjakan 425 poin atau 5,14%, mencapai Rp 8.700. Sementara itu, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 375 poin atau 6,20%, ditutup pada harga Rp 6.425. Kenaikan saham-saham unggulan ini menjadi daya tarik tambahan bagi investor untuk terus memburu saham-saham berkinerja baik.

Di sisi lain, beberapa saham yang berada dalam daftar top losers mengalami koreksi. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terpantau melemah 450 poin atau 1,10%, diperdagangkan di angka Rp 40.450. PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) mengalami penurunan 200 poin atau 2,38%, berakhir di Rp 8.200. PT Roda Vivatex Tbk (RDTX) juga turut tertekan sebesar 150 poin atau 1,50%, pada harga Rp 9.850. PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) mencatat penurunan 200 poin atau 2,38%, dengan harga penutupan Rp 8.200. Pelemahan saham-saham ini menunjukkan adanya profit taking atau aksi jual yang dilakukan oleh sebagian investor setelah kenaikan sebelumnya, namun dampaknya tidak sampai menggerus secara signifikan penguatan IHSG secara keseluruhan.

Pergerakan di pasar mata uang juga memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah terhadap mata uang Rupiah. Berdasarkan data perdagangan yang dirilis oleh Reuters, nilai tukar dolar AS pada siang hari ini bergerak di kisaran Rp 13.362, menunjukkan pelemahan dibandingkan posisinya pada pagi hari yang berada di level Rp 13.377. Pelemahan dolar AS ini seringkali diinterpretasikan sebagai indikator kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik yang semakin membaik, yang pada gilirannya juga berdampak positif pada pasar saham.

Kondisi pasar saham domestik yang positif ini terjadi berbarengan dengan tren penguatan yang juga mewarnai mayoritas bursa saham global. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen positif di pasar keuangan global turut memengaruhi optimisme investor di pasar domestik. Berdasarkan pantauan di bursa saham Asia pada pagi ini, Indeks Nikkei 225 Jepang membukukan kenaikan sebesar 205,070 poin atau 1,09%, mencapai 19.099,439. Indeks Hang Seng Hong Kong mengalami sedikit penurunan sebesar 142,311 poin atau 0,62%, berada di level 22.955,949. Sementara itu, Indeks SSE Composite Tiongkok juga terpantau melemah 6,720 poin atau 0,22%, pada 3.106,290. Berbeda dengan itu, Indeks Straits Times Singapura menunjukkan penguatan tipis sebesar 6,530 poin atau 0,22%, bertengger di angka 3.006,750. Penguatan bursa global ini memberikan dorongan tambahan bagi para pelaku pasar untuk melakukan investasi di aset berisiko seperti saham.

Also Read

Tags