Real Madrid tengah menghadapi paradoks menarik di dua musim terakhir. Di satu sisi, kehadiran Kylian Mbappe telah menyuntikkan performa individu yang memukau, namun di sisi lain, koleksi trofi mayor klub justru terasa hampa. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pendekatan yang terlalu bergantung pada satu bintang di era sepak bola modern yang menekankan aspek kolektivitas.
Sejak bergabung dengan raksasa Spanyol ini pada pertengahan 2024, Kylian Mbappe menjelma menjadi mesin gol yang tak terbendung. Laporan mencatat bahwa penyerang asal Prancis itu telah mengemas total 85 gol dalam 100 pertandingan yang dijalaninya. Puncaknya, pada musim ini saja, ia berhasil menyumbangkan 41 gol dari 41 penampilan, sebuah angka yang jauh melampaui kontribusi gol dari rekan-rekan setimnya. Vinicius Junior, yang sering disebut sebagai "saingan" terdekatnya dalam urusan mencetak gol, tercatat baru mengoleksi 21 gol. Statistik ini secara kasat mata menunjukkan betapa krusialnya peran Mbappe bagi lini serang Madrid. Bahkan, meskipun kontribusi gol Mbappe hanya mencapai 37 persen dari total gol tim, ketergantungannya tak terhindarkan.
Namun, performa gemilang individu Mbappe nyatanya belum berbanding lurus dengan raihan gelar prestisius bagi Real Madrid. Memang benar, ia turut berkontribusi dalam perolehan dua trofi, yakni Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental. Namun, kedua ajang tersebut tergolong turnamen singkat yang hanya membutuhkan satu pertandingan untuk menentukan sang juara, sehingga dampaknya mungkin tidak sebesar yang diharapkan. Sementara itu, kompetisi-kompetisi utama yang menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah klub, seperti LaLiga, Copa del Rey, dan Liga Champions, justru luput dari genggaman Los Blancos. Bahkan, Piala Super Spanyol pun bernasib serupa, tidak berhasil dimenangkan.
Situasi ini tidak luput dari perhatian para pengamat sepak bola, termasuk mantan bek Barcelona, Jordi Alba. Alba secara terang-terangan membandingkan kondisi Real Madrid saat ini dengan mantan klubnya. Ia mengamati bahwa Barcelona, di bawah kepelatihan yang menekankan pengembangan pemain muda dari akademi La Masia, justru menunjukkan performa yang lebih konsisten dan superior berkat kekuatan kolektivitas tim. Menurutnya, filosofi bermain sebagai satu kesatuan menjadi kunci utama keberhasilan Barcelona.
Jordi Alba mengemukakan pandangannya bahwa faktor lingkungan dan ekspektasi yang menyertai kedatangan pemain sekaliber Mbappe, meskipun berperan penting, ternyata belum cukup untuk menopang kesuksesan tim secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa esensi sepak bola masa kini, lebih dari segalanya, terletak pada bagaimana sebuah tim mampu bekerja sama sebagai sebuah unit. Dalam konteks ini, Alba melihat Barcelona memiliki keunggulan yang signifikan. Ia menjelaskan bahwa Barcelona bermain layaknya sebuah tim yang solid, di mana setiap pemain memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing, baik dalam fase bertahan maupun menyerang. Lebih dari itu, para pemain Barcelona juga terlihat menikmati kebersamaan dan permainan mereka di atas lapangan, sebuah elemen yang kerapkali sulit diukur namun krusial bagi keharmonisan tim.
Pandangan Alba ini menyiratkan sebuah kritik halus terhadap pendekatan Real Madrid yang mungkin terlalu memuja individualitas, termasuk performa spektakuler Mbappe. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa seorang pemain bintang dapat menjadi pembeda dalam sebuah pertandingan, namun di era sepak bola yang semakin kompleks dan dinamis, keberhasilan sebuah tim justru seringkali ditentukan oleh kedalaman skuad, strategi kolektif, dan kemampuan setiap individu untuk berkontribusi pada tujuan bersama. Terlalu bergantung pada satu atau dua pemain kunci, sekecil apapun kontribusi gol mereka, bisa menjadi titik rentan ketika pemain tersebut mengalami penurunan performa, cedera, atau ketika lawan berhasil meredam pergerakannya secara efektif.
Dalam konteks Real Madrid, pertanyaan yang muncul adalah apakah euforia terhadap gol-gol indah Mbappe telah mengaburkan kebutuhan untuk memperkuat aspek kolektif tim? Apakah strategi permainan yang dibangun lebih menitikberatkan pada kemampuan individu Mbappe untuk menciptakan peluang, ketimbang membangun sebuah sistem permainan yang solid dan merata di semua lini? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin akan menentukan masa depan Real Madrid dalam perburuan gelar-gelar bergengsi di musim-musim mendatang. Kehadiran pemain sekelas Mbappe adalah anugerah, namun tanpa pondasi tim yang kuat dan semangat kolektivitas yang mengakar, bahkan performa individu sekalipun bisa jadi terasa kurang maksimal dalam mencapai puncak kejayaan.
Fenomena ini juga menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub sepak bola di seluruh dunia. Bahwa sepak bola modern bukanlah tentang siapa yang memiliki pemain terhebat, melainkan tentang bagaimana semua pemain dapat bersinergi dan bekerja keras demi satu tujuan. Tim yang memiliki keseimbangan antara kekuatan individu dan kolektivitas, serta mampu menjaga keharmonisan antar pemain, kemungkinan besar akan lebih konsisten meraih kesuksesan dalam jangka panjang. Real Madrid, dengan Mbappe di dalamnya, masih memiliki kesempatan untuk menemukan keseimbangan tersebut dan kembali mendominasi panggung sepak bola Eropa dan dunia. Namun, langkah itu memerlukan evaluasi mendalam terhadap strategi, filosofi permainan, dan yang terpenting, penguatan ikatan kolektivitas di dalam tim.






