Kisah Tiga Kota Nuklir: Mengapa Chernobyl Abadi Sepi, Berbeda dengan Hiroshima dan Nagasaki

Rayyan Alfarizqi

Dunia mencatat tiga peristiwa besar yang terkait dengan kekuatan nuklir yang menghancurkan: bom atom yang menghantam Hiroshima dan Nagasaki, serta kecelakaan reaktor di Chernobyl. Namun, sementara kedua kota Jepang tersebut kini telah bangkit dan dihuni kembali, Chernobyl tetap menjadi zona terlarang yang ditinggalkan manusia dalam jangka waktu yang tak terduga. Perbedaan mendasar antara tragedi-tragedi ini terletak pada sifat pelepasan radiasi dan material yang terlibat.

Pada bulan Agustus 1945, di pengujung Perang Dunia II, Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom, yang dijuluki "Little Boy" dan "Fat Man," di atas kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, dengan jeda tiga hari. Serangan udara ini merenggut nyawa sekitar 129.000 hingga 226.000 jiwa, mayoritas adalah warga sipil. Bahkan para sukarelawan yang bergegas ke lokasi untuk memberikan pertolongan segera menemui ajal akibat paparan radiasi mematikan.

Tahun-tahun berikutnya, para penyintas melaporkan peningkatan drastis kasus leukemia, berbagai jenis kanker lainnya, serta kondisi medis mengerikan lainnya. Bagi wanita hamil yang terpapar ledakan, risiko keguguran dan kematian bayi meningkat secara signifikan. Anak-anak yang selamat saat lahir juga lebih rentan mengalami gangguan perkembangan, keterbelakangan intelektual, hambatan pertumbuhan, dan peningkatan risiko terkena kanker di kemudian hari.

Berbeda dengan bom atom yang merupakan senjata yang dirancang untuk menghasilkan ledakan dahsyat dalam waktu singkat, Chernobyl adalah sebuah kecelakaan industri yang terjadi pada dini hari 26 April 1986. Sebuah reaktor nuklir di pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut meledak, melepaskan sejumlah besar radionuklida berbahaya ke atmosfer. Kekuatan ledakan ini menyebarkan material radioaktif ke sebagian besar wilayah Uni Soviet, mencakup Belarusia, Ukraina, dan Rusia modern.

Saat ledakan terjadi, dua orang dilaporkan tewas seketika, dan sekitar 28 orang lainnya meninggal dalam kurun waktu seminggu. Namun, dampak jangka panjangnya jauh lebih mengerikan. Sekitar 600.000 personel yang terlibat dalam operasi pembersihan, yang dikenal sebagai "likuidator," terpapar radiasi dalam kadar yang sangat berbahaya. Pemerintah Soviet saat itu berupaya menutupi insiden tersebut selama beberapa waktu, dan sifat pelaporan yang tidak transparan membuat sulit untuk menentukan jumlah pasti kematian yang disebabkan oleh bencana ini. Perkiraan PBB menyebutkan hanya 50 orang yang meninggal secara langsung akibat bencana tersebut, namun pada tahun 2005, diperkirakan bahwa hingga 4.000 orang mungkin masih akan meninggal akibat efek jangka panjang dari paparan radiasi tersebut.

Lantas, mengapa Chernobyl menjadi tempat yang sulit dihuni kembali oleh manusia? Perbedaan krusial terletak pada cara bom atom dan kecelakaan reaktor melepaskan energi dan material radioaktif. Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki diledakkan di ketinggian tertentu di atas permukaan tanah. Pendekatan ini dirancang untuk memaksimalkan jangkauan daya ledaknya, menghasilkan kerusakan langsung yang luas, namun secara bersamaan mengurangi tingkat kontaminasi radiasi di permukaan tanah.

Sebaliknya, ledakan di Chernobyl, yang jauh lebih kecil dalam skala dibandingkan bom atom dan terjadi di permukaan tanah, melepaskan lebih dari 400 kali lipat material radioaktif ke atmosfer. Selain itu, ledakan tersebut menyisakan puing-puing radioaktif dalam jumlah besar, termasuk fragmen reaktor yang terkontaminasi, di area sekitar lokasi kejadian.

Faktor lain yang membedakan adalah jumlah material fisil yang digunakan di setiap lokasi. Senjata nuklir dan reaktor nuklir umumnya menggunakan uranium yang diperkaya, yang memiliki konsentrasi tinggi isotop uranium-235 (U-235). Isotop inilah yang menjadi bahan bakar untuk reaktor dan bahan pemicu ledakan bom. Dalam desain senjata nuklir, tujuan utamanya adalah melepaskan energi semaksimal mungkin dengan mengonsumsi uranium secepat dan sebanyak mungkin. Reaksi ini tidak memerlukan jumlah uranium yang sangat besar untuk menghasilkan ledakan yang signifikan. Sebagai gambaran, satu kilogram U-235 saja dapat melepaskan energi setara dengan sekitar 17 kiloton TNT. Bom "Little Boy" yang dijatuhkan di Hiroshima mengandung 64 kilogram uranium dengan kemurnian sekitar 80%.

Sementara itu, reaktor nuklir beroperasi dengan cara yang berbeda. Reaktor menggunakan batang kendali yang berfungsi menyerap neutron tambahan, sehingga reaksi berantai fisi dapat dipertahankan pada intensitas yang lebih rendah dan dalam jangka waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, reaktor membutuhkan jumlah uranium yang diperkaya jauh lebih besar sebagai bahan bakarnya. Reaktor Chernobyl, misalnya, mengandung sekitar 180 ton bahan bakar nuklir.

Lebih lanjut, reaktor nuklir menghasilkan produk sampingan nuklir yang sangat radioaktif dalam jumlah besar. Limbah nuklir ini diklasifikasikan berdasarkan tingkat radiasinya: tingkat rendah (LLW), tingkat menengah (ILW), atau tingkat tinggi (HLW), tergantung pada komposisinya. Meskipun terdapat berbagai zat radioaktif dalam limbah nuklir, beberapa yang paling berbahaya adalah cesium, yodium, dan grafit (yang digunakan sebagai moderator di beberapa jenis reaktor nuklir, termasuk di Chernobyl).

Biasanya, ketika bahan bakar nuklir di reaktor sudah habis, bahan bakar tersebut akan diganti dan disimpan di dalam reaktor hingga dapat dibuang dengan aman atau didaur ulang. Namun, dalam kasus Chernobyl, ledakan yang terjadi secara dramatis melepaskan material-material ini ke atmosfer dan lingkungan sekitarnya. Produk sampingan ini memiliki waktu paruh yang panjang, yang berarti mereka tetap berbahaya bagi manusia dalam jangka waktu yang sangat lama. Kombinasi pelepasan material radioaktif dalam jumlah besar, jenis material yang dilepaskan, dan waktu paruh yang panjang dari isotop-isotop berbahaya inilah yang menjadikan Chernobyl sebuah zona eksklusi, sebuah lanskap yang ditinggalkan, dan tempat yang tidak layak huni bagi manusia dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan.

Also Read

Tags