Memegang kemudi kendaraan listrik (EV) bukanlah pengalaman yang sama dengan mengendarai mobil bermesin pembakaran internal konvensional. Teknologi yang tersemat pada EV menuntut pemahaman mendalam dan, dalam banyak kasus, pelatihan khusus bagi penggunanya. Kendaraan ramah lingkungan ini, yang semakin populer di kalangan masyarakat, dilengkapi dengan serangkaian sistem canggih yang diatur oleh standar internasional yang ketat, terutama terkait aspek keselamatan.
Menurut Yannes M. Pasaribu, seorang pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), potensi penuh dari teknologi mutakhir yang tertanam dalam EV tidak akan dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa dibekali oleh keterampilan dan pengetahuan yang memadai dari pengemudi. Ia menekankan bahwa kecanggihan teknis kendaraan menjadi sia-sia apabila pengemudi tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai prosedur operasional, terutama dalam situasi darurat. Hal ini, menurutnya, mempertegas urgensi diadakannya pelatihan komprehensif bagi para operator armada EV. Pelatihan ini harus melampaui sekadar instruksi dasar tentang cara menyalakan dan mematikan kendaraan.
Yannes menjelaskan bahwa EV dirancang dengan arsitektur fail-safe berlapis yang mematuhi standar internasional yang sangat ketat. Sebagai contoh, standar ISO 6469-1 mengatur keselamatan kelistrikan. Dalam kasus terdeteksinya anomali oleh Battery Management System (BMS), sistem tidak akan langsung mati total, melainkan akan menurunkan daya secara bertahap (mode limp). Lebih lanjut, ISO 6469-3 memastikan perlindungan penumpang dengan mengatur pemutusan sirkuit tegangan tinggi saat terjadi tabrakan.
Sistem pengereman pada EV juga dirancang dengan redundansi hidrolik sesuai standar UN R13-H, yang menjamin fungsinya tetap berjalan meskipun tanpa pasokan daya listrik. Sistem kemudi Electric Power Steering (EPS) dilengkapi dengan cadangan sirkuit ganda sesuai ISO 26262 (standar keselamatan fungsional ASIL-D). Perlindungan termal baterai mengacu pada ISO 6469-1, sementara UN GTR No. 20 menetapkan ambang batas untuk thermal runaway baterai. Yannes juga menyebutkan pengujian ketahanan mekanis baterai terhadap benturan, getaran, dan penetrasi yang dilakukan sesuai standar UN R100, serta kemungkinan adanya regulasi internasional lainnya yang relevan.
Di sisi lain, Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe Indonesia, memberikan pandangan bahwa sebelum terjadi masalah serius, kendaraan listrik biasanya akan memberikan peringatan kepada pengemudi melalui panel instrumen. Indikator-indikator tertentu akan menyala, dan terkadang terdapat pesan peringatan yang ditampilkan di dasbor.
Menurut Gofar, peringatan ini umumnya berbentuk indikator visual atau pesan teks. Langkah krusial yang harus diambil pengemudi adalah merespons peringatan tersebut dengan serius. Ia menjelaskan bahwa indikator pada EV seringkali memiliki konvensi warna tersendiri; misalnya, warna kuning menandakan peringatan ringan, sementara warna merah menunjukkan situasi yang lebih mendesak atau berbahaya.
Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah pada kendaraan listrik, sangat penting bagi pengemudi untuk memahami arti dari setiap indikator dan peringatan yang muncul. Kesalahan dalam interpretasi atau tindakan yang salah dapat berujung pada konsekuensi yang lebih fatal bagi komponen kendaraan.
Gofar menambahkan bahwa seringkali, peningkatan keparahan kerusakan justru disebabkan oleh pengabaian terhadap indikator atau peringatan yang diberikan oleh sistem kendaraan. Oleh karena itu, sangat disarankan agar para operator kendaraan listrik juga dibekali pemahaman yang memadai mengenai makna dari setiap indikator atau peringatan yang mendadak aktif. Pengetahuan ini bukan hanya soal "mengerti" visualisasi di dasbor, melainkan pemahaman mendalam tentang apa yang sedang terjadi pada sistem kendaraan dan bagaimana meresponsnya secara tepat. Hal ini mencakup pemahaman tentang berbagai sistem yang bekerja di balik layar, mulai dari manajemen baterai, sistem penggerak listrik, hingga sistem keselamatan aktif dan pasif. Tanpa pemahaman ini, fitur-fitur keselamatan canggih yang tersemat pada EV tidak akan mampu memberikan perlindungan maksimal, dan potensi kerusakan dapat meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, investasi dalam edukasi dan pelatihan bagi pengguna EV menjadi langkah strategis untuk memastikan pengalaman berkendara yang aman, efisien, dan berkelanjutan.






