Raja Sapta Oktohari, pucuk pimpinan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), tidak ragu menyuarakan keprihatinannya mengenai kondisi sektor olahraga nasional. Pernyataan tegas ini dilontarkan di tengah derasnya arus efisiensi anggaran yang tengah diterapkan, sebuah situasi yang menurutnya membayangi kemajuan olahraga Tanah Air. Okto menyampaikan pandangannya yang blak-blakan dalam sebuah forum penting, Rapat Anggota KOI 2026 yang diselenggarakan di kawasan Senayan. Acara tersebut dihadiri oleh para pemangku kepentingan utama, termasuk perwakilan induk-induk cabang olahraga, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Dengan lugas, Okto mengemukakan bahwa kemajuan olahraga Indonesia menghadapi tantangan signifikan, khususnya terkait dengan ketersediaan dana. "Olahraga Indonesia sedang menghadapi masa-masa sulit, dan ini bukan tanpa alasan. Masalah utama yang mendesak kita adalah terkait pendanaan," ungkapnya, secara gamblang menyentil isu anggaran yang menjadi sorotan utama. Pernyataan ini bukan tanpa konteks, sebab diumumkan di saat pemerintah sedang gencar melakukan penyesuaian anggaran, sementara Indonesia bersiap menjadi tuan rumah salah satu ajang olahraga terbesar kedua di Asia, yaitu Asian Games 2026 di Nagoya.
Dampak dari pemotongan anggaran ini sudah mulai terasa di beberapa cabang olahraga. Cabang-cabang vital seperti akuatik, atletik, dan balap sepeda dilaporkan mengalami pengurangan alokasi dana. Ironisnya, kondisi ini bahkan memaksa cabang akuatik untuk memulangkan para atletnya kembali ke klub masing-masing, sebuah langkah drastis yang mencerminkan betapa krusialnya peran anggaran dalam menopang persiapan dan pencapaian prestasi para atlet di kancah internasional, terutama di pesta olahraga akbar sekelas Asian Games. Ketersediaan dana yang memadai memang menjadi fondasi utama bagi setiap cabang olahraga untuk merancang program latihan, mengirimkan atlet ke berbagai kompetisi, serta memastikan kesejahteraan mereka terpenuhi.
Lebih jauh, Okto juga menyoroti adanya kekeliruan dalam mengartikan aktivitas atlet di luar negeri. Ia menegaskan bahwa istilah "perjalanan dinas" tidak seharusnya disematkan pada kegiatan yang dilakukan oleh para atlet. Menurut pria yang pernah memegang tampuk kepemimpinan Asian Para Games 2018, kegiatan seperti try out atau pemusatan latihan di luar negeri memiliki esensi yang sangat berbeda dengan perjalanan dinas yang lazimnya dilakukan oleh kalangan birokrasi atau kementerian. "Sangat keliru jika kegiatan atlet di luar negeri, seperti mengikuti training center atau try out, disamakan dengan perjalanan dinas. Istilah perjalanan dinas sejatinya diperuntukkan bagi para pegawai di lingkungan kementerian," jelasnya. Okto berjanji akan terus berjuang bersama seluruh induk cabang olahraga di Indonesia demi kepentingan dan masa depan atlet serta para pengurus olahraga nasional.
Menanggapi pernyataan dan kekhawatiran yang dilontarkan oleh KOI dan federasi olahraga, Menpora Erick Thohir memberikan tanggapan. Ia mengaku telah mendengarkan dengan seksama seluruh masukan yang disampaikan. Meskipun mengakui adanya upaya efisiensi anggaran, Erick Thohir tetap menyuntikkan optimisme, menekankan bahwa komitmen pemerintah terhadap pengembangan olahraga nasional tidak pernah surut. Ia menggarisbawahi bahwa Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto, memiliki perhatian dan komitmen yang kuat terhadap pembangunan olahraga nasional. "Sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, saya senantiasa mendengarkan setiap masukan dari KOI maupun berbagai cabang olahraga terkait pendanaan. Namun, penting untuk ditegaskan bahwa komitmen Bapak Presiden terhadap kemajuan olahraga nasional tidak perlu diragukan lagi," ujar Erick. Ia menambahkan bahwa baik Presiden maupun dirinya adalah bagian integral dari dunia olahraga nasional. Oleh karena itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga akan terus berupaya melakukan efisiensi anggaran agar dana yang ada dapat tersalurkan secara tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal bagi kemajuan olahraga.






