Akhir Mimpi Juara: Persija Terpental dari Perburuan Gelar Super League Pasca-El Clasico

Arsya Alfarizqi

Kekalahan dramatis yang dialami Persija Jakarta dari rival abadinya, Persib Bandung, dalam duel bertajuk El Clasico, secara definitif telah memupus harapan mereka untuk meraih gelar juara Super League musim 2025/2026. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Segiri, Samarinda, pada Minggu (10/5/2026), menjadi titik balik krusial yang mengakhiri asa Macan Kemayoran untuk bersaing di papan atas klasemen.

Dalam pertandingan pekan ke-32 tersebut, tim asuhan pelatih Mauricio Souza sempat menunjukkan performa menjanjikan dengan membuka keunggulan 1-0 melalui gol indah dari Alaaeddine Ajaraie. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Skuad Maung Bandung berhasil membalikkan keadaan dan meraih kemenangan 2-1 berkat dua gol yang dicetak oleh Adam Alis.

Hasil minor ini membuat Persija tertinggal 10 poin dari pemuncak klasemen, Persib, yang kian kokoh di posisi teratas. Dengan mengumpulkan 65 poin dan menyisakan dua pertandingan lagi, Persija tidak lagi memiliki peluang matematis untuk mengejar perolehan angka Persib. Poin maksimal yang bisa diraih Persija di akhir musim adalah 71 poin, sebuah angka yang masih jauh di bawah koleksi poin Persib.

Lebih jauh lagi, kekalahan ini juga membuat Persija dipastikan tidak bisa menggeser Borneo FC Samarinda dari peringkat kedua. Tim berjuluk Pesut Etam tersebut telah mengoleksi 72 poin, unggul satu angka dari Persija. Dengan demikian, persaingan gelar juara Super League musim ini kini mengerucut hanya menyisakan dua tim teratas, yaitu Persib dan Borneo FC.

Menanggapi situasi yang sulit ini, gelandang Persija, Fabio Calonego, mengungkapkan pentingnya untuk tetap tegar dan fokus pada sisa pertandingan. Ia menekankan perlunya tim untuk tetap mengangkat kepala, menunjukkan semangat juang yang tinggi, dan terus bekerja keras dalam setiap laga yang tersisa. "Sekarang saatnya kita untuk tetap mengangkat kepala, bekerja keras, dan melanjutkan perjuangan kita di kompetisi ini," ujar Calonego seusai pertandingan.

Sementara itu, peluang juara kini berada di tangan Persib dan Borneo FC. Borneo FC memiliki kesempatan untuk menyamai perolehan poin Persib apabila mereka berhasil meraih kemenangan dalam pertandingan melawan Bali United yang dijadwalkan pada Senin (11/5). Namun, untuk merebut takhta juara, Borneo FC tidak hanya dituntut untuk memenangkan semua sisa pertandingannya, tetapi juga sangat bergantung pada hasil pertandingan Persib. Mereka harus berharap Persib terpeleset di laga-laga penentu.

Jadwal yang tersisa bagi kedua tim penantang gelar ini pun cukup padat. Persib dijadwalkan akan melakoni dua pertandingan terakhir melawan PSM Makassar dan Persijap. Di sisi lain, Borneo FC memiliki jadwal yang lebih berat dengan tiga laga sisa melawan Bali United, Persijap, dan Malut United.

Menariknya, meskipun Borneo FC berhasil menyamai perolehan poin Persib di akhir musim, hal tersebut belum tentu menjamin gelar juara bagi tim asal Samarinda tersebut. Hal ini disebabkan oleh aturan head-to-head yang lebih menguntungkan Persib. Jika kedua tim memiliki poin yang sama, Persib yang akan lebih diunggulkan karena mereka memiliki rekor pertemuan yang lebih baik melawan Borneo FC sepanjang musim ini. Keunggulan head-to-head ini menjadi faktor penentu yang bisa memisahkan kedua tim di puncak klasemen.

Dengan demikian, nasib Persija dalam perburuan gelar juara Super League 2025/2026 telah tertutup. Fokus tim kini kemungkinan akan beralih untuk mengamankan posisi terbaik di klasemen akhir dan mempersiapkan diri untuk musim mendatang, sambil menyaksikan bagaimana drama perebutan gelar antara Persib dan Borneo FC akan berakhir. Kekalahan dalam laga El Clasico ini bukan hanya sekadar tiga poin yang hilang, melainkan juga penutup babak bagi mimpi mereka untuk merengkuh trofi juara di musim ini. Perjuangan Persija untuk meraih gelar harus ditunda, dan perhatian kini tertuju pada persaingan ketat antara dua tim teratas yang akan menentukan siapa yang berhak dinobatkan sebagai juara Super League musim ini. Situasi ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, di mana setiap pertandingan memiliki arti krusial dan dapat menentukan nasib tim di akhir musim. Kegagalan meraih poin penuh dalam laga penting seperti El Clasico, yang merupakan puncak dari rivalitas sepak bola tanah air, memang menjadi pukulan telak bagi ambisi Persija.

Also Read

Tags