Munculnya Bintang Muda Arsenal: Lewis-Skelly Menggeser Posisi Zubimendi di Lini Tengah

Arsya Alfarizqi

Kemunculan mendadak Myles Lewis-Skelly di lini tengah Arsenal telah mengubah dinamika skuad asuhan Mikel Arteta. Pemain muda yang sebelumnya dikenal sebagai bek kiri ini kini menjelma menjadi elemen krusial di sektor tengah, bahkan berhasil mengungguli Martin Zubimendi yang sebelumnya menjadi pilihan utama untuk berduet dengan Declan Rice. Transformasi ini menunjukkan kedalaman strategi Arteta dalam memanfaatkan potensi pemainnya dan adaptabilitas taktis yang luar biasa.

Lewis-Skelly, yang baru berusia 19 tahun, awalnya ditempatkan sebagai bek kiri. Namun, Arteta melihat potensi yang lebih besar dalam dirinya untuk bermain sebagai gelandang. Percobaan pertama yang signifikan dilakukan Arteta pada pertandingan melawan Fulham pada 2 Mei lalu, yang berakhir dengan kemenangan meyakinkan Arsenal 3-0. Dalam laga tersebut, Lewis-Skelly menunjukkan performa yang mengesankan, membuktikan bahwa ia mampu mengisi peran sebagai gelandang pivot bersama Declan Rice. Kepercayaan Arteta semakin teruji dalam pertandingan krusial leg kedua semifinal Liga Champions melawan Atletico Madrid, di mana Arsenal kembali meraih kemenangan 1-0. Sekali lagi, duet Lewis-Skelly dan Rice di lini tengah menjadi kunci keberhasilan tim.

Posisi Zubimendi, yang sebelumnya merupakan tandem ideal bagi Rice, kini tergeser ke bangku cadangan. Pemain asal Spanyol ini, yang didatangkan dari Real Sociedad, harus menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi menjadi pilihan utama di lini tengah. Keputusan Arteta untuk terus mempercayakan lini tengah kepada Lewis-Skelly dan Rice kembali dibuktikan dalam pertandingan tandang melawan West Ham United pada Minggu (10/5/2026) dalam lanjutan Liga Inggris. Arsenal berhasil memetik kemenangan 1-0. Namun, situasi tak berjalan mulus sepenuhnya. Zubimendi baru mendapatkan kesempatan bermain pada menit ke-28, menggantikan Ben White yang mengalami cedera. Masuknya Zubimendi memicu pergeseran posisi yang tidak ideal; Declan Rice terpaksa mengisi posisi bek kanan karena terbatasnya pilihan akibat cedera Jurrien Timber.

Pergeseran ini berdampak pada stabilitas lini tengah Arsenal. Duet Lewis-Skelly dan Zubimendi di tengah lapangan tampak kesulitan mengimbangi intensitas permainan lini tengah West Ham. Ketidakmampuan mereka memenangkan duel bola di area tersebut menjadi masalah yang harus segera diatasi oleh Arteta. Menyadari hal ini, Arteta melakukan perubahan taktis di awal babak kedua. Riccardo Calafiori ditarik keluar untuk memberikan kesempatan kepada Cristhian Mosquera. Perubahan ini memungkinkan Rice kembali ke posisi gelandang tengah, Lewis-Skelly bergeser ke bek kiri, dan Mosquera mengambil alih posisi bek kanan.

Meskipun demikian, Arsenal masih kesulitan menemukan ritme permainan menyerang yang efektif. Gol yang dinanti-nantikan baru tercipta pada menit ke-83 melalui aksi Leandro Trossard, yang memanfaatkan umpan dari Martin Odegaard. Sebelum gol tersebut tercipta, Arteta kembali membuat keputusan berani dengan menarik keluar Zubimendi dan Eberechi Eze pada menit ke-67. Keputusan ini diambil karena Arteta membutuhkan pemain dengan orientasi menyerang yang lebih kuat untuk membongkar pertahanan lawan.

Arteta sendiri mengakui bahwa keputusannya untuk menarik keluar Zubimendi bukanlah hal yang mudah. Ia menjelaskan bahwa dalam situasi pertandingan yang ketat, ia perlu melakukan penyesuaian strategis untuk mencari solusi menyerang. Ia mengungkapkan bahwa memasukkan Mosquera bertujuan untuk memberikan fluiditas dan membuka peluang mencetak gol. Namun, ia juga menekankan bahwa terkadang diperlukan perubahan lain, termasuk menarik keluar Zubimendi, yang merupakan keputusan sulit mengingat ia memulai pertandingan sebagai pemain pengganti. Arteta merasa timnya membutuhkan dua gelandang serang untuk memberikan ancaman lebih besar kepada lawan, dan untungnya, strategi tersebut berhasil membuahkan hasil. Pernyataannya tersebut, yang dikutip dari situs resmi Arsenal, menyoroti dilema taktis yang dihadapi pelatih dalam mengelola skuadnya.

Kasus Lewis-Skelly ini menjadi bukti nyata dari filosofi pengembangan pemain muda yang dianut Arsenal. Kemampuannya untuk beradaptasi dengan peran baru dan memberikan kontribusi signifikan di lini tengah menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh para pemain akademi klub. Perjalanannya dari bek kiri ke gelandang sentral ini bukan hanya tentang perubahan posisi, tetapi juga tentang kepercayaan pelatih, kerja keras pemain, dan adaptabilitas taktis yang menjadi ciri khas tim di era Mikel Arteta. Dengan semakin matangnya Lewis-Skelly, Arsenal memiliki opsi gelandang yang semakin kaya dan beragam, siap menghadapi berbagai tantangan di berbagai kompetisi. Transformasi ini juga membuka diskusi menarik mengenai bagaimana pelatih dapat mengidentifikasi dan memaksimalkan potensi tersembunyi dalam skuad mereka, menciptakan dinamika tim yang segar dan kompetitif. Pengaruh Lewis-Skelly dalam menggeser pemain sekaliber Zubimendi menjadi sinyal kuat bahwa era baru pemain muda yang bersinar di Arsenal telah tiba.

Also Read

Tags