Sentimen Positif Jaga Indeks Bursa Jakarta, Rupiah Menguat atas Dolar AS

Razka Raffasya

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 5 Juni 2017, menunjukkan tren positif yang berkelanjutan sejak pembukaan pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup pada level 5.753 pada akhir sesi pertama perdagangan. Pergerakan pasar yang optimis ini turut dibarengi dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Mata uang Paman Sam tercatat berada di angka Rp 13.292, mengalami pelemahan dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu yang berada di Rp 13.311.

Sejak awal perdagangan, sentimen positif sudah terlihat. Pada fase preopening, IHSG mencatatkan kenaikan tipis sebesar 5,445 poin atau 0,09%, membawanya ke level 5.747,891. Indeks LQ45, yang mencerminkan saham-saham berkapitalisasi pasar besar dan likuid, juga menunjukkan tren positif dengan penambahan 2,832 poin atau 0,30%, mencapai angka 960,532.

Memasuki sesi perdagangan resmi pada Senin pagi, IHSG kembali dibuka menguat. Indeks utama bursa saham Indonesia ini dibuka dengan kenaikan 2,585 poin atau 0,05%, mencapai level 5.745,031. Sementara itu, Indeks LQ45 berada di level 961,412. Namun, pergerakan indeks pada periode awal perdagangan ini cenderung terbatas, bergerak dalam rentang yang sempit. Adanya aktivitas jual yang dilakukan oleh investor domestik menjadi salah satu faktor yang sedikit menahan laju penguatan IHSG.

Pada pukul 09.05 waktu JATS (Jakarta Automated Trading System), IHSG melanjutkan tren positifnya dengan kenaikan 4,111 poin atau 0,07%, mencapai 5.746,557. Di sisi lain, Indeks LQ45 mengalami sedikit penurunan sebesar 0,093 poin atau 0,01%, berada di level 961,142.

Memasuki penutupan sesi pertama perdagangan siang hari, IHSG berhasil mempertahankan momentum penguatannya. Indeks tercatat naik signifikan sebesar 10,929 poin atau 0,19%, menembus level 5.753. Indeks LQ45 pun turut menguat sebesar 2,543 poin atau 0,26%, mencapai 963,955. Sepanjang sesi pertama, IHSG sempat menyentuh level terendahnya di 5.735,580 dan level tertingginya di 5.765,829. Aktivitas perdagangan pada siang hari itu cukup menggeliat, tercatat sebanyak 166.740 kali transaksi terjadi, melibatkan perputaran 4 miliar lembar saham dengan total nilai mencapai Rp 3 triliun.

Sektor-sektor yang berkontribusi terhadap penguatan IHSG didominasi oleh sektor keuangan, yang mencatatkan kenaikan sebesar 0,69%. Secara keseluruhan, terdapat 147 saham yang mengalami kenaikan harga, berbanding terbalik dengan 161 saham yang melemah dan 102 saham yang stagnan. Hal ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang cukup aktif dengan pergerakan harga yang bervariasi di berbagai emiten.

Di pasar regional, pergerakan bursa saham cenderung beragam atau mix, dengan kecenderungan melemah pada beberapa indeks utama. Bursa saham Jepang menjadi satu-satunya yang berhasil mencatatkan penguatan di antara bursa-bursa saham di kawasan Asia. Situasi di bursa regional pada siang hari itu adalah sebagai berikut: Indeks Nikkei 225 Tokyo melonjak 35,451 poin atau 0,18%, mencapai level 20.212,730. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 71,021 poin atau 0,27%, berada di level 25.853,029. Indeks Komposit Shanghai juga mengalami penurunan sebesar 16,190 poin atau 0,52%, mencapai 3.089,350. Indeks Straits Times Singapura pun mencatatkan pelemahan tipis 0,440 poin atau 0,01%, berada di level 3.239,570.

Beberapa saham menunjukkan performa yang impresif dan masuk dalam jajaran top gainers. Di antaranya adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang melonjak Rp 475 menjadi Rp 10.500, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp 475 ke Rp 74.975, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) menguat Rp 300 ke Rp 6.275, dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) bertambah Rp 250 menjadi Rp 11.250.

Sementara itu, beberapa saham mengalami tekanan jual dan masuk dalam kategori top losers. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) turun Rp 550 menjadi Rp 6.050, PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) melemah Rp 420 ke Rp 4.980, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mengalami penurunan harga sebesar Rp 18.100, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) atau yang dikenal dengan Matahari Department Store (LPPF) turun Rp 200 ke Rp 15.000. Perdagangan saham yang bervariasi ini mencerminkan sentimen pasar yang beragam terhadap sektor-sektor dan emiten-emiten tertentu, meskipun secara keseluruhan IHSG berhasil ditutup pada zona hijau.

Also Read

Tags