Fenomena masyarakat tanpa akses layanan perbankan atau unbanked masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data terbaru menunjukkan jumlahnya masih mencapai puluhan juta orang, meskipun inklusi keuangan terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data World Bank, jumlah penduduk dewasa Indonesia yang belum memiliki rekening bank pernah mencapai sekitar 97,74 juta orang atau setara dengan 48% populasi dewasa. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah unbanked terbesar di dunia.
Sementara itu, data yang lebih baru menunjukkan adanya perbaikan. Pada 2025, jumlah masyarakat usia produktif yang belum memiliki rekening tercatat sekitar 15,3 juta orang. Meski menurun, angka ini tetap tergolong besar dan menjadi perhatian serius pemerintah serta industri keuangan.
Apa Itu Unbanked?
Secara sederhana, unbanked adalah kelompok masyarakat yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal seperti bank. Artinya, mereka tidak memiliki rekening tabungan, akses kredit resmi, maupun layanan keuangan lainnya.
Kondisi ini membuat masyarakat unbanked cenderung menyimpan uang secara tunai, sulit mendapatkan pembiayaan, serta tidak memiliki riwayat kredit. Akibatnya, peluang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi menjadi lebih terbatas.
Penyebab Tingginya Angka Unbanked
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan masih tingginya jumlah masyarakat unbanked di Indonesia. Salah satunya adalah faktor geografis. Sebagai negara kepulauan, tidak semua wilayah memiliki akses mudah ke layanan perbankan.
Selain itu, tingkat literasi keuangan juga masih menjadi kendala. Meski terus meningkat, masih banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dan cara menggunakan layanan keuangan formal.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah rendahnya kepercayaan terhadap lembaga keuangan serta persyaratan administrasi yang dianggap rumit oleh sebagian masyarakat.
Inklusi Keuangan Terus Meningkat
Di sisi lain, upaya meningkatkan inklusi keuangan terus menunjukkan hasil positif. Survei nasional menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai lebih dari 80% dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan ini didorong oleh berbagai program pemerintah, perkembangan teknologi finansial (fintech), serta kemudahan pembukaan rekening secara digital.
Bahkan, platform dompet digital juga turut berperan besar. Salah satu laporan menunjukkan sekitar 43% pengguna layanan keuangan digital berasal dari kelompok unbanked, yang menandakan adanya pergeseran menuju akses keuangan yang lebih inklusif.
Tantangan dan Dampak Ekonomi
Tingginya jumlah unbanked bukan hanya masalah individu, tetapi juga berdampak pada perekonomian nasional. Minimnya akses ke layanan keuangan membuat perputaran uang tidak optimal dan menyulitkan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.
Selain itu, masyarakat unbanked juga lebih rentan terhadap praktik keuangan informal yang berisiko, seperti pinjaman dengan bunga tinggi tanpa perlindungan hukum yang jelas.
Upaya Pemerintah dan Industri Keuangan
Pemerintah bersama berbagai lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia terus mendorong peningkatan inklusi keuangan melalui edukasi, digitalisasi, serta perluasan akses layanan.
Program literasi keuangan, pembukaan rekening secara online, hingga pengembangan sistem pembayaran digital seperti QRIS menjadi langkah strategis untuk menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan.
Selain itu, kolaborasi dengan perusahaan fintech juga menjadi kunci dalam mempercepat penetrasi layanan keuangan ke daerah terpencil.
Harapan ke Depan
Meski jumlah unbanked di Indonesia masih tergolong tinggi, tren yang ada menunjukkan arah perbaikan. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, diharapkan semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses layanan keuangan formal.
Ke depan, inklusi keuangan tidak hanya menjadi target statistik, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan di Indonesia.






