oleh

Resensi-FKPT Sulbar Gelar FGD

-Daerah, Mamuju-55 views

Mamuju, Penasulbar.co.id – Pada hari Minggu, 24 Oktober 2021, Resensi Institute bersama FKPT Sulbar mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang bertema “Pasca Kemenangan Taliban dan Relevansinya Indeks Radikalisme Di Sulawesi Barat.

FGD ini mengundang 3 Narasumber yaitu, H. M. Sahlan. S. Ag., Yang mewakili (Kemenag Sulbar dan Sekertaris MUI Sulbar), Yusran, S. Pd.,M.pd (Akademisi Universitas Tomakaka) dan terakhir adalah Muh. Ilham Idris.

Lebih lanjut pembukaan materi dibuka oleh pak Yusran mengharapkan dengan dilakukannya survei Indeks Radikalisme menjadi pegangan FKPT dalam bertindak menangani sumber-sunber radikalisme. Meskipun dalam pengumpulan data tersebut itu tidaklah mudah. Dikarenakan ada beberapa hal yang menjadi kendala.

Dilanjutkan oleh pemateri kedua yaitu, H. M. Sahlan. S. Ag. Mengajak umat Islam khususnya Sulawesi barat untuk merepson secara positif terhadap dinamika yang terjadi pada gejolak yang telah terjadi pasca kemenangan Taliban.
Dan beliau mengajak kita untuk kembali kepada ideologi Pancasila sebagai pedoman dalam bernegara kita.

Lebih lanjut beliau mengatakan Sebagai ormas dan ASN harus menempatkan diri dalam ketidakberpihakan kepada hal-hal yang sifatnya berbau mengenai radikalisme, seperti perdebatan mengenai Mualid nabi yang sebenarnya tidak perlu kita perdebatkan.

Selanjutnya Muh. Ilham Idris menjelaskan bahwa radikalisme kini mengalami shifting (berpindah) tidak hanya dalam dunia nyata, info-info radikalisme semakin beredar di dunia Maya. Bahkan melakukan perekrutan tanpa ada penyaringan.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa kemampuan kita dalam mengelola informasi serta kebiasaan share sebelum saring menjadi kelemahan kita pada zaman yang serba cepat ini. Ditambah lagi masyarakat Indonesia “KEPO”, terhadap sesuatu. Atau yang narasumber bahasakan adalah “FOMO” yaitu suatu penyakit kecemasan, cemas akan tertinggal informasi. Sehingga kita perlu untuk meningkatkan literasi digital kita dengan menerapkan berpikir kritis terhadap apa-apa informasi yang beredar di dunia Maya.

FGD ini ternyata membuat para peserta merasa tertarik untuk bertanya. Peserta hanya dibatasi oleh 5 pertanyaan. Pertanyaan pertama disampaikan perwakilan dari Kesbangpol sebelum bertanya beliau juga menjelaskan keresehan beliau terhadap aksi-aksi radikalisme baik di dunia nyata maupun di dunia Maya semakin menjadi. Sehingga pada akhir keluhannya beliau bertanya langkah-langkah pendeteksian dini gerakan radikalisme dan upaya untuk turun ke masyarakat. Dilanjutkan oleh penulis kedua yang disampaikan Rosmini perwakilan dari Kohati HMI Sulbar mempertanyakan tentang gerakan LGBT. Pertanyaan keitiga tak Kalah menariknya juga yang di sampaikan eh Adama Jauri yang mewakili GMNI, ia mengatakan bahwa Radikalisme adalah kata yang problematik, sehingga radikalisme sebaiknya diganti. Dan di akhir Adam Jauri mempertanyakan bagaimana ideologi Pancasila dibumikan?

Pertanyaan selanjutnya dia sampaikan oleh Radi yang mewakili PMII mempertanyakan apa yang dapat dilakukan terhadap antisipasi Taliban? Dan pertanyaan terkahir yang disampaikan oleh Fatmawati yang mewakili Fatayat bahwa antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi yang lain harus terus bergandengan tangan, berkolaborasi untuk memberantas Radikalisme.

Dan selanjutnya pertanyaan tersebut dijawab oleh ke 3 narasumber dengan baik dan begitu semangat. Bahhwa radikalisme adalah musuh kita bersama dan penangannya tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.

Komentar