oleh

Korban-korban Revolusi Telah Siap Tuk di Kurbankan

Adam Jauri

 

Dalam karyanya, ‘Sapiens’, Yuval telah banyak menyinggung hal-hal didalam sejarah Dunia dan perjalanan singkat Homo Sapiens. Salah satunya menyinggung hal yang awalnya sudah menjadi habitus bagi kita dimana Hewan-hewan yang biasa kita kenal dan jumpai juga mempunyai hak asasi yang sama seperti manusia.

Lepas dari determinasi dogmatis agama dan kepercayaan, dalam kacamata biologis manusia dan binatang sungguh mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup dan bertahan hidup.

Sebagai mahluk material yang juga hidup dalam dunia material pula manusia dan hewan tercipta dari evolusi organisme-organisme yang berangsur sangat lama.

Kembali menoleh dalam poros sejarah kehadiran Homo Sapiens sekitar 17 ribu tahun lalu, dapat menjadi barometer bagaimana keegoisan dan keserakahan manusia dalam hal mendominasi segala macam sumber daya yang ada di Bumi, sungguh sesuatu hal yang ironi karena banyak dari berbagai macam spesies hewan maupun tumbuhan yang lebih dulu tinggal dibumi seakan-akan menjadi cemas karena kehadiran manusia yang begitu serakah.

Ditambah lagi dari hasil revolusi agrikultur yang menjadi awal terjadinya pembunuhan besar-besaran yang didomestikasi oleh kaum-kaum agrikuluturan.

Mengutip perkataan salah seorang filsuf yunani klasik, Aristoteles yang mengatakan, bahwa “Manusia adalah binatang yang berfikir” Dan juga pernyataan dari seorang ilmuwan terkenal, Charles Darwin mengatakan, “nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern”.

Dari kutipan-kutipan filsuf diatas mungkin dapat dijadikan landasan berfikir bahwa kita adalah binatang yang mencoba menjadi Dewa atas segala mahluk yang ada di Bumi, menaikkan level dari apa yang telah terkonstruk dalam tatanan imajinasi.

Sesungguhnya dalam prespektif biologi terlepas dari hal dogmatis agama, derajat kita (manusia) dan hewan itu sama. Sebenarnya tanpa disadari kita telah menjadi pembunuh-pembunuh yang handal.

Kita pernah dan bahkan selalu melakukannya (membunuh) karna itu sudah menjadi kebiasaan yang terbangun dari culture fundamenta dan anggapan kaum intelek maupun kaum agamis yang dengan bangga mengakui bahwa mereka mencintai alam dan mencintai ciptaan Tuhan, tanpa mereka sadari, mereka telah mengkhianati tentang apa yang mereka katakan sebelumnya.

Tidakkah sesuatu yang egois bukan?

Sebenarnya tulisan ini hanya menjadi bahan perbandingan semata, supaya kita tidak terjebak dalam hal yang dogmatis. Harapan saya agar kita lebih mengenal, mencintai, dan menghargai alam serta mahluk ciptaan Tuhan.

“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam. Diapun bisa dilawan oleh manusia” (Pramoedya Ananta Toer).

Wassalam.

~Bung Adam

Editor: Eka Musriang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *