oleh

Ketua PERMATA Makassar Kecam Gagalnya Kristina ke Istana, ini Permainan Lazim Bagi Golongan Masyarakat Kecil

Ketua PERMATA Makassar, Patricia Melani.

Makassar,penasulbar.co.id – Kasus Kristina, Siswi SMAN I Mamasa yang gagal berangkat ke Jakarta sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana kepresidenan, mendadak viral.

Bagaimana tidak, perempuan berparas cantik asal Desa Salutabang Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa itu telah ditetapkan menjadi perwakilan Sulbar dan siap bertolak ke Istana Jakarta untuk bergabung dengan utusan dari provinsi lain.

Hanya berselang beberapa hari menjelang pemberangkat, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulbar membatalkan penetapan dan pemberangkatan Kristina menjadi anggota Paskibraka Nasional dengan alasan terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil tes PCR.

Ironisnya, Kristina digantikan dengan siswi lain yang bukan posisi cadangan berdasarkan hasil seleksi yang sudah ditetapkan Dispora Sulbar sebelumnya.

Selain itu, Hasil tes PCR yang dilakukan Kristina secara mandiri melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa dinyatakan negatif Covid-19.

Keputusan Dispora Sulbar membatalkan Kristina berangkat ke Istana, menjadi sorotan publik khususnya kelurga dan sejumlah aktivis organiasai kepemmudaan Kabupaten Mamasa.

Kecaman keras disampaikan Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Tabulahan (PERMATA) Makassar, Patricia Melani.

Ia mengungkapkan, apa yang dialami Kristina hari ini merupakan bentuk perlakuan diskriminasi kepada masyarakat kecil yang tidak punyak “orang besar” dibelakangnya.

Patricia mengingatkan kepada para pengambil keputusan khususnya Dispora Sulbar agar kejadian ini tidak terulang lagi jika tidak ingin dipermalukan publik.

“Bagiku, ini adalah “permainan lazim” yang banyak dialami masyarakat kecil dierah sebelum digitalisasi dan terulang kembali hari ini. Namun, kita bisa liat hanya dalam sekecap langsung viral di metsos, bahkan menjadi isu Nasional karena dulu dan sekarang sudah beda. Sekarang tidak bisa lagi ada yang disembunyikan. Kini jamannya keterbukaan informasi publik.,” terang aktivis muda P.U.S itu melalui via selulernya, Minggu (1/8/2021).

Dia menyebutkan sejumlah kejanggalan dalam pembatalan Kristina menjadi angota Paskibraka Nasional diantaranya, pengganti Kristina bukan ditetapkan dari cadangan, hasil Tes PCR yang dilakukan secara mandiri setelah sampai di Mamasa negatif, berbeda dengan tes PCR yang dilakukan di Mamuju sedang Kristina dipulangkan ke Mamasa tanpa penerapan Prokes sebagaimana layaknya pasien Covid-19.

“Kalau kita analisa dengan memperhatikan rentetan peristiwa sebelum adik Kristina dinyatakan batal berangkat ke Jakarta maka kita menduga kuat ada permainan didalamnya. Yang paling jelas, kenapa yang gantikan Kristina bukan diambil dari cadangan atau peringkat kedua dari kristina. Kenjanggalan ini telah tersebar luas hingga ke Kemenpora RI,” pungkasnya.

Menurut Patricia, kisa nyata yang dialami Kristina ini seakan memberi pesan bahwa prestasi di negeri ini, khususnya di Sulbar dikesampingkan dan dapat dibumkam oleh kaum kapitalis.

“Saya berharap, cukuplah adik Kristina yang alami kejadian ini. Peristiwa ini bisa membunuh karakter generasi bangsa dan tidak percaya diri untuk berkarya, mengembangkan talentanya,” tutup Patricia. (ns-01)

Redaktur : Nisan Parrokak

Komentar