oleh

Jeritan Rakyat Diusia Merdeka

Jack Paridi

 

Tanggal 17 agustus adalah hari peringatan bahwa Indonesia telah merdeka. Dimana sejarah mencatat perjuangan-perjungan para pendahulu yang kemudian mendedikasikan diri untuk mencapai sebuah titik kemerdekaan.

Pada dasarnya, merdeka adalah bebas dari segalah belenggu atau pun kekangan, aturan dan kekuasaan dari pihak tertentu.

Tanggal 17 agustus adalah tanggal yang begitu penting bagi rakyat Indonesia untuk mengenang betapa beratnya perjungan para pahlawan untuk merebut sebuah kemerdekaan.

Tendensi dari perjuangan itu, untuk sebuah kesejateraan rakyat Indonesia yang kita pahami bahwa nusantara pada saat itu dijadikan sebuah tempat penjajahan oleh negara-negara lain.

Namun di usia kemerdekaan yg semakin bertambah, semakin bertambah pulah kritik atau pertanyaan yang kemudian lahir dari kalangan masyarakat Indonesia.

Sangat sulit kemudian untuk memberikan sebuah tema pada sistem pemerintahan hari ini yang diterapkan di tenga-tenga masyarakat. Asumsi masyarakat kemudian bermunculan di tengah-tengah usia kemerdekaan.

Terciptanya sebuah regulasi yang di rumuskan oleh pihak pemerintah, semata-semata untuk berujung pada kepentingan-kepentingan rakyat.

Kebingungan semakin bertambah saja melihat realisasi dari regulasi itu sendiri tidak mampu untuk menciptakan efek jerah ataupun solusi di tengah-tengah jeritan dan terikan Rakyat Indonesia yang pada dasarnya hak-hak yang diberikan kepada Rakyat itu kemudian tidak lagi rill dirasakan oleh Rakyat itu sendiri.

Hal ini yang membuat masyarakat akan semakin jauh tenggelam dalam ketertindasan yang tercipta dari kaum kaum asing namun rill hadir dari hasil settingan para penguasa.

HAK UNTUK HIDUP, HAK UNTUK PENGAKUAN SEBAGAI PRIBADI DI DEPAN HUKUM, HAK ATAS KESETARAAN DI DEPAN HUKUM, KEBEBASAN DILINDUNGI HUKUM HAK UNTUK AUDENSI PUBLIK, HAK UNTUK BERDEMOKRASI, HAK UNTUK JAMINAN SOSIAL dan masi banyak hak-hak lagi yang harusnya sejalan dengan masyarakat namun itu hanya dijadikan sebuah tulisan-tulisan dan pajangan.

Bebas dari penjajahan kelompok asing yang bersenjata adalah salah satu hal yang kita rasakan hari ini. Apakah penjajahan itu hilang sejara pemanen??

Pertanyaan pertanyaan ini semakin bermunculan saja apakah asing tidak lagi berperan dalam penjajahan model baru hari ini?

Dalam bidang ekonomi, makin bertumbuh saja hasil-hasil dari para investasi asing. Kebanggaan untuk berbelanjah di supermarket ataupun minimarket, alfamat, indomart yang lahir dari infestor-infestor asing tanpa tumbuh kesadaran bahwa sahnya hal ini mengakibatkan turunnya pendapatan negara disebabkan banyaknya konsumen yang lebih memilih berbelanja di perusahaan milik asing itu sendiri, makin nyatalah bahwa kemerdekaan dari kaum asing ini hanyalah sebuah catatan-catatan fiktif dan hanya jadi bahan pembodohan.

Tampa sadar, penjajahan model baru kian meningkat dalam bentuk penjajahan imprealisme.
Mungkin jawaban yang tepat adalah hari kemerdekaan hanya seremonial saja.

Sebuah candi yang memberikan persepsi bahwa sahnya kita hidup dalam negara yang merdeka, jeritan rakyat hari ini seakan-akan terus berjalan ketika regulasi-regulasi dan kaum-kaum penguasa tidak mampu menghardikan solusi demi mencapai kemerdekaan seratus persen itu.

Penjajahan hari ini jelas adanya. Hal ini ditandai dengan jeritan rakyat Indonesia. Belum lagi, kebijakan ekonomi masih merujuk pada KAPITALISME. Tragisnya, hukum kita pun masih di dominasi oleh hukum-hukum kolonial sehingganya kemiskinan jadi penyakit umum Rakyat.

Mustahil bicarakeadilan atas tanah air dan udara ketika tanah rakyat di gusur atas nama pembangunan. Mustahil pula bicara soal kedaulatan pangan ketika inpor-inpor masi jadi pembahasan serius para elite-elite politik dengan kerja sama yang begitu rapi antara pihak pemerintah dan asing.

Neo imprealisme memamfaatkan kaki dan tangan para komprador sebagai alat penindas dan penghianat yang telah mengjual aset-aset milik bangsa.

Sayangnya, fakta lebih kuat untuk membuktikan bahwa Indonesia belum merdeka yakni, keterjajahan pemikiran politik ekonomi, pendidikan, hukum, budaya dan sosial. Indonesia belum merdeka dari kemmiskinan, kebodohan, kerusakan moral dan keterbelakangan.

JACK PARIDI

(Eka/*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *